x

Tim Riset PC PMII Pamekasan Temukan Data Kelangkaan Pupuk Tembakau

waktu baca 2 menit
Kamis, 20 Jun 2024 07:51 0 44 detektif_jatim

Pamekasan, Detektifjatim.com – Memasuki bulan tanam tembakau, Tim riset Pengurus Cabang (PC) pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, temukan kelangkaan pupuk, Kamis (20/6/2024).

Temuan itu terjadi di tiga kecamatan. Proppo, Larangan, dan Kadur. Kelangkaan pupuk bersubsidi yang dihadapi oleh petani tembakau itu terungkap, saat PC PMII pamekasan melakukan riset tentang produktivitas tembakau.

Ketua Umum PC PMII Pamekasan, Homaidi. Menyampaikan. Tembakau merupakan penunjang ekonomi masyarakat, dia mengatakan pupuk bersubsidi menjadi tugas pemerintah untuk mencari jalan keluar.

“Pupuk bersubsidi sudah jadi tugas pemerintah untuk petani di pamekasan, termasuk petani tembakau, karena ini sudah masuk musim tanam tembakau, maka perlu ada sulosinya,” Jelasnya.

Lebih lanjut, Homaidi menegaskan, meski tembakau merupakan komoditas yang tidak mendapatkan pupuk bersubsidi, namun hal ini menjadi tugas pemerintah untuk mencari alternatif lain.

Peria yang akrab di panggil Mas Ketum itu, menjelaskan, bahwa. Selain pupuk bersubsidi timnya menemukan permasalahan lain, seperti sulitanya air untuk penyiraman tembakau, modal usaha, dan jaranganya petugas penyuluh turun ke dusun-dusun terpencil.

“Penelitian ini sudah dilakukan di tiga kecamatan dan masih akan dilanjutkan di kecamatan. Pakong, kecamatan. Waru dan kecamatan. Batumarmar,” Tuturnya.

Selaras, Ketua tim riset, Achmad Hamdan Ghafuro menyampaikan bahwa, pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah sangat terbatas, sehingga petani terpaksa mencari pupuk ke luar daerah dengan harga yang lebih mahal.

“Saat di lapangan kami sangat miris mas, masyarakat terpaksa mencari pupuk ke luar daerah meski dengan harga yang lebih mahal,” jelasnya

Dilanjut Hamdan mengungkapkan, selain sulitanya pupuk, ketersediaan air juga menjadi kendala bagi petani tembakau dalam proses penyiraman. Tak lupa modal juga menjadi alasan petani untuk memulai bertani.

“Beberapa hari ini, saya dan tim riset sudah turun lapangan dan menemukan kesulitan bagi petani. Termasuk air, dan modal,” ungkapnya, (luq).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x