(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
x

Kultum Ramadhan, Ra Hamid Sampaikan Amaliyah 10 Hari Terakhir, Sampai Siti Aisyah Rindu

3 minutes reading
Monday, 17 Apr 2023 06:11 0 138 detektif_jatim

Pamekasan, DETEKTIF Jatim – Bulan suci Ramadhan merupakan bulan mulia yang penuh berkah dan ampunan. Tetapi umat Islam juga kembali diingatkan kemuliaan 10 hari terakhir Ramadhan yang menjadi waktu tepat untuk semakin meningkatkan kualitas ibadahnya.

Seperti dikisahkan Aisyah RA, bahwa Rasulullah menghabiskan waktunya di masjid selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, dan tidak pernah pulang ke rumahnya.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Tonggul Angin, Tagangser Daya, Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan, Abdul Hamid mengatakan, Rasulullah lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadahnya di 10 hari terkahir bulan Ramadhan melebihi hari-hari dan malam-malam lainnya.

Ada beberapa ibadah amaliyah yang dilakukan Rasulullah pada 10 hari terakhir Ramadhan tersebut. Yang pertama adalah qiyamullail atau ibadah di malam hari. “Kalau sebelumnya tidak melaksanakan (qiyamullail) maka pada 10 terakhir ini (mari) sungguh-sungguh untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah swt,” kata Ra Hamid, sapaan akrab Abdul Hamid, Senin (17/4/2023).

Menurut para ulama, lanjut Ra Hamid, shalat tarawih juga termasuk qiyamullail karena dilakukan pada malam hari setelah shalat Isyak berjamaah. Namun akan lebih baik jika shalat malam lagi pada sepertiga malam terakhir sembari bermunajat kepada Allah SWT.

“Rasulullah juga memperbanyak sedekah pada 10 hari terkahir bulan Ramadhan, kalau di budaya kita dikenal dengan istilah “Rasolan” yaitu dengan membawa makanan ke musholla-musholla atau ke tetangga terdekat. Itu kan merupakan bentuk amaliyah dalam menyambut malam Lailatul Qadar,” lanjutnya

Dewan Pengasuh ini juga menjelaskan bahwa sedekah tidak ada batasannya, boleh dilaksanakan kapanpun dan dalam bentuk apapun. “Dalam bentuk buka puasa bersama, bagi takjil, memberikan sembako dan lainnya, waktunya bisa malam hari atau siang hari, kapan saja,” ucap Ra Hamid.

Berbeda halnya dengan zakat fitrah yang memang ada waktu yang paling diutamakan yaitu pada malam hari raya Idul Fitri. Namun jika ingin melaksanakan 10 hari terakhir tidak apa-apa, baik itu zakat fitrah maupun zakat mal.

“Kita bisa beribadah lainnya seperti I’tikaf, itu merupakan contoh dari Rasulullah yang memilih mentap di masjid daripada memilih untuk pulang. Jadi ketika Siti Aisyah rindu, nabi cukup membuka jendela agar Siti Aisyah bisa menyisir rambut beliau yang mulia,” tambah Ra Hamid

Jika menilik maknanya, Itikaf berarti berdiam diri di masjid, tetapi kalau disertai tilawah, dzikir tentu lebih baik. “Nah kalau sama-sama nongkrongnya, sama-sama duduk-duduknya, mending duduk-duduk di masjid dengan niat itikaf itu sudah dapat pahala, dari pada di rumah,” jelasnya.

Pada 10 terakhir bulan suci Ramadhan ini, lanjut Ra Hamid juga merupakan hari yang sangat mungkin terjadinya malam Lailatul Qadar terutama di malam-malam ganjil. “Tetapi bukan berarti di malam 1-20 hari pertama bulan Ramadhan tidak ada Lailatul Qadar. Hanya paling besar kemungkinan terjadi di 10 malam terakhir,” ucap Gus Ra Hamid.

Dirahasiakannya Lailatul Qadar ini, jelas Ra Hamid ada hikmahnya yaitu agar umat Islam tidak hanya beribadah saat Lailatul Qadar. “Tetapi kalau orang itu selama Ramadhan siang harinya puasa lalu malamnya qiyamullail, tarawih, salat tahajud, Tilawatil Quran maka yakinlah ia bisa menemukan Lailatul Qadar mulai dari tenggelamnya matahari sampai dengan terbitnya fajar,” pungkasnya. (vick)

Baca Juga : Kado Cinta Ramadhan, KMB Santuni 106 Kaum Dhuafa dan 60 Anak Yatim

Ramadhan Berbagi, PC PMII Pamekasan Gelar Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama

Sambut Harlah PMII dan Hari Kartini, PK PMII IAI-MU Gelar Bagi-Bagi Takjil

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x