
PAMEKASAN, detektifjatim.com – Kabar mengembirakan datang kepada ketua DPC Demokrat Pamekasan, Haji Ismail.
Disela-sela kesibukannya, Ia masuk 22 tokoh muda Nahdlatul Ulama yang meraih penghargaan dari Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN).
Haji Ismail terpilih sebagai “Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026”.
Ketua Umum FJN, Muhamad Didi Rosadi yang akrab disapa Diday, menjelaskan penghargaan tersebut diberikan kepada 22 tokoh dari berbagai latar belakang dan bidang pengabdian.
Para penerima ditetapkan melalui seleksi internal FJN dengan mempertimbangkan kiprah, kontribusi, serta rekam jejak yang dinilai inspiratif. Mereka berasal dari beragam kalangan, mulai dari politisi, pengusaha, kiai, hingga tokoh muda Nahdliyin lainnya.

Menariknya, proses pemberian penghargaan dilakukan tanpa pemberitahuan maupun komunikasi terlebih dahulu kepada para penerima.
“Para penerima ini kita tidak pernah ada komunikasi sebelumnya, tanpa ada pemberitahuan,” jelas Diday.
Kejutan tersebut juga dirasakan Ismail. Ia mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa dirinya masuk dalam daftar penerima penghargaan FJN tahun 2026.
“Terima kasih banyak kepada teman-teman FJN. Ini benar-benar surprise sekali. Tanpa pemberitahuan atau komunikasi apa pun sebelumnya, tiba-tiba penghargaan ini diberikan. Makanya saya sangat berterima kasih kepada teman-teman FJN,” paparnya.
Ismail berharap penghargaan tersebut tidak sekadar menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga motivasi untuk terus meningkatkan pengabdian serta mendorong generasi muda Nahdliyin agar berani mengambil peran di berbagai bidang.
“Mudah-mudahan ini menjadi motivasi untuk saya pribadi dan juga teman-teman generasi muda Nahdliyin,” imbuhnya.
Di balik jabatan strategis yang kini diembannya, Ismail memiliki perjalanan politik yang tidak singkat. Kepercayaan masyarakat hingga mengantarkannya menjadi pimpinan DPRD Pamekasan dibangun melalui proses panjang, kerja keras, dan pendekatan langsung kepada masyarakat.
Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut mengenang perjuangannya ketika pertama kali memutuskan terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Saat itu, ia harus bekerja keras memperkenalkan diri sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat. Berbagai wilayah didatanginya, mulai dari pasar hingga desa-desa.
“Bahkan awal-awal maju jadi caleg, saya turun berkampanye keliling ke pasar-pasar, ke desa-desa,” kenangnya.
Perjuangan itu semakin menantang karena Ismail bukan orang asli Pamekasan. Ia lahir di Kalimantan dan datang ke Pamekasan untuk menempuh pendidikan tinggi di UIN Madura, yang ketika itu masih bernama STAIN Pamekasan.
Kondisi tersebut membuatnya harus membangun jejaring sosial dan memperoleh kepercayaan masyarakat dari awal. Ia melakukan pendekatan kepada berbagai simpul masyarakat, termasuk tokoh-tokoh setempat, untuk memperkenalkan diri sekaligus membangun hubungan dengan warga.
“Jadi saya di Pamekasan itu tidak ada keluarga, apalagi di Dapil Satu,” jelas Ismail.
Selain kiprah politik, Ismail juga memiliki kontribusi dalam kehidupan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Pamekasan. Bersama sejumlah kiai dan pengurus NU Kota Pamekasan, ia turut menginisiasi pembangunan Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Pamekasan.
Inisiatif tersebut kini telah terwujud. Bagi Ismail, keberhasilan pembangunan kantor MWCNU menjadi salah satu pengalaman berharga dalam perjalanan pengabdian dan kebersamaannya dengan lingkungan Nahdliyin.
“Dan alhamdulillah sekarang sudah terwujud,” ucapnya. (azm/ady).




Tinggalkan Balasan