x

Dakwah Islam dan Lestarikan Budaya Madura, LDNU Pamekasan Gelar Bhitoah Aghung

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Jul 2026 21:02 49 Moh Azmi

PAMEKASAN, Detektifjatim.com – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pamekasan menggelar kegiatan bertajuk “Bhitoah Aghung” di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Minggu (26/07/2026) malam.

Pada kegiatan ini, dihadiri Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan KH Muchlis Nasir, Ketua LDNU Pamekasan Gus Hamid Amjad, KH Sa’dud Darain, KH Anis Cipta Dewata, KH A. Fauzan Rofiq, Gus Mudarris Abd Wahab, KH Abd Kholiq Fandi, KH Ahmad Hasan Djauhary, Lora Imam Hanafi, Lora Abd Ghani, Kyai Fathorrozi, serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Pamekasan.

Kegiatan ini dipimpin lansung Ketua LDNU Pamekasan, Gus Hamid Amjad. Menurutnya, kegiatan itu menjadi ruang dakwah yang memadukan nilai keislaman dengan pelestarian budaya Madura.

Mengusung tema “Bhitoah Aghung” atau pepatah yang mulia, kegiatan tersebut membahas tentang tauhid, keimanan, serta pentingnya menjaga harga diri sebagai bagian dari karakter masyarakat Madura yang religius.

Wakil Ketua LDNU Pamekasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Nyalaran, KH A. Fauzan Rofiq, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas dengan nuansa budaya Madura sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi yang sarat nilai keagamaan.

Bhitoah Aghung bukan sekadar kegiatan seremonial. Kami ingin mengingatkan masyarakat bahwa Madura memiliki warisan budaya yang sangat erat dengan nilai-nilai tauhid, akhlak, dan kehormatan diri. Budaya dan agama di Madura tumbuh berdampingan, sehingga keduanya harus terus dijaga,” ujar KH A. Fauzan Rofiq.

Suasana semakin khidmat sejak pembukaan acara yang diiringi tabuhan pencak silat dan rebana Madura klasik. Sejumlah lantunan religius seperti shalawat Gusteh Rasulullah, pembacaan sifat wajib dan mustahil bagi Allah, Jaliyatul Qadar, hingga Burdah menggema dengan iringan musik tradisional khas Madura.

Nuansa Madura tempo dulu juga tampak dari busana para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir. Mereka mengenakan pakaian adat seperti odheng, pesak, baju Sakera, bahkan beberapa di antaranya membawa keris dan celurit sebagai simbol budaya, bukan untuk dipertontonkan sebagai senjata.

Menurut KH A. Fauzan Rofiq, pendekatan budaya menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat hubungan antara ulama dan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan penguatan spiritual, tetapi juga diingatkan akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus menghadirkan kembali memori kebersamaan masyarakat Madura yang penuh kesederhanaan, kekeluargaan, dan keteladanan. Nilai-nilai itulah yang perlu diwariskan kepada generasi sekarang,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua LDNU Pamekasan Gus Hamid Amjad mengatakan, Bhitoah Aghung merupakan ikhtiar LDNU untuk menghadirkan dakwah yang dekat dengan budaya masyarakat Madura. Menurutnya, dakwah tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga dapat diwujudkan dengan menghidupkan kembali tradisi-tradisi lokal yang mengandung nilai keislaman.

“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Madura sejak dahulu tidak pernah lepas dari nilai-nilai Islam. Karena itu, melalui Bhitoah Aghung kami berupaya merawat warisan para ulama dan leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Budaya yang baik harus menjadi media dakwah dan perekat persaudaraan di tengah masyarakat,” ujar Gus Hamid Amjad. (azm/ady).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x