
Oleh: Muhammad Ahnu Idris
Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr PCNU Kabupaten Pamekasan
Sebuah siaran langsung TikTok di Pamekasan berubah menjadi persoalan yang jauh melampaui ruang tempat siaran itu berlangsung. Tindakan seorang perempuan yang diduga menginjak Al-Qur’an memicu kontroversi setelah rekamannya beredar di media sosial. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana tindakan yang berlangsung di hadapan kamera dapat berkembang menjadi persoalan publik dengan konsekuensi sosial dan hukum.
Beberapa hari sebelumnya, peristiwa serupa dalam konteks berbeda terjadi di Sumatera Utara. Seorang kreator konten juga berhadapan dengan hukum setelah diduga mengeluarkan pernyataan yang menghina agama Kristen ketika melakukan siaran langsung TikTok. Berdasarkan keterangan awal kepolisian, tindakan yang dipersoalkan diduga berkaitan dengan kekecewaan kreator konten terhadap kondisi ekonominya, meskipun latar belakang perbuatannya masih didalami penyidik. Latar belakang ini berbeda dari peristiwa Pamekasan sehingga keduanya tidak dapat dijelaskan melalui penyebab yang sama. Kesamaannya terletak pada medium komunikasi yang digunakan: tindakan yang berlangsung melalui siaran langsung kemudian berkembang menjadi persoalan yang menarik perhatian masyarakat luas.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kontroversi keagamaan di ruang digital tidak cukup dipahami melalui tindakan individu yang memicunya. Fitur interaksi, kemudahan penyebaran, dan keterbukaan akses memungkinkan suatu tindakan menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat. Persoalannya, perluasan perhatian publik itu tidak selalu disertai pemahaman yang utuh terhadap situasi ketika tindakan berlangsung.

Dalam percakapan tatap muka, seseorang biasanya dapat memperkirakan siapa yang sedang mendengarkan dan bagaimana situasi pembicaraan berlangsung. Keadaan berbeda muncul ketika percakapan dilakukan melalui siaran langsung media sosial. Seseorang mungkin berbicara dari rumahnya sendiri, tetapi tidak selalu mengetahui siapa saja yang menyaksikan, bagaimana perkataannya dipahami, atau kepada siapa rekaman percakapan itu kelak tersebar.
Lebih jauh, penonton tidak selalu hadir sebagai penerima pesan yang pasif. Mereka dapat mengajukan pertanyaan, menyampaikan tuduhan, memberikan dukungan, atau melontarkan komentar yang memancing reaksi. Percakapan berlangsung secara spontan, sementara pembuat konten dapat menanggapi komentar penonton hampir pada saat yang bersamaan.
Dalam kasus Pamekasan, berdasarkan keterangan kepolisian yang diberitakan media, tindakan yang dipersoalkan berkaitan dengan komentar penonton yang menyinggung kehidupan pribadi perempuan tersebut. la disebut berusaha membantah tuduhan melalui sumpah menggunakan Al-Qur’an. Situasi kemudian berkembang hingga muncul tindakan yang menjadi pokok perkara.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa siaran langsung bukan sekadar aktivitas seseorang berbicara di depan kamera. Komentar penonton dapat menjadi bagian dari percakapan yang memengaruhi arah interaksi. Dalam kasus Pamekasan, hubungan ini penting diperhatikan untuk memahami bagaimana situasi berkembang, tanpa menjadikannya alasan untuk menghapus tanggung jawab individu atas tindakan yang dipersoalkan.
Interaksi semacam itu dimungkinkan oleh karakter teknologi yang digunakan. Dalam kajian komunikasi digital, kemungkinan tindakan yang disediakan suatu teknologi bagi penggunanya dikenal sebagai media affordances. Fitur komentar dalam siaran langsung, misalnya, memungkinkan penonton ikut memengaruhi jalannya percakapan, meskipun keputusan untuk menanggapi komentar tersebut tetap berada pada pembuat konten.
Tik Tok tidak dapat begitu saja dianggap sebagai penyebab tindakan yang dipersoalkan. Pengguna tetap memiliki tanggung jawab atas tindakannya, meskipun situasi komunikasi turut dipengaruhi oleh karakter platform yang digunakan. Fitur siaran langsung menyediakan ruang interaksi yang berlangsung cepat dan terbuka, sehingga komentar penonton dapat segera memperoleh tanggapan. Karakter inilah yang perlu diperhitungkan ketika kita berusaha memahami hubungan antara situasi komunikasi dan tindakan penggunanya.
Persoalan komunikasi tidak berhenti ketika siaran langsung selesai. Rekamannya dapat disimpan dan disebarkan kepada orang-orang yang tidak menyaksikan peristiwa awal. Melalui penyebaran tersebut, sebuah tindakan memperoleh kehidupan sosial yang lebih panjang: audiens baru dapat memberikan komentar, membentuk penilaian, dan ikut memperluas jangkauan kontroversi.
Penonton yang mengikuti siaran sejak awal mungkin mengetahui percakapan yang mendahului suatu tindakan. Sebaliknya, orang yang menemukan potongan rekaman melalui unggahan lain belum tentu memperoleh informasi yang sama. Keduanya memperoleh gambaran tentang tindakan yang sama, tetapi dapat membentuk penilaian berdasarkan konteks yang berbeda. Di sinilah penyebaran konten digital dapat memperluas kontroversi sekaligus mempersulit pemahaman terhadap peristiwa awal.
Rekaman dapat memperlihatkan tindakan yang terjadi, tetapi belum tentu menjelaskan seluruh keadaan yang melatarbelakanginya. Urutan peristiwa, konteks percakapan, dan maksud pihak yang terlibat tetap memerlukan pemeriksaan yang cermat. Karena itu, menyaksikan sebuah rekaman tidak selalu sama dengan memahami keseluruhan peristiwa.
Ketika sebuah rekaman beredar, orang tidak selalu menjumpainya dalam bentuk yang sama dengan peristiwa awal. Keterangan unggahan, judul pemberitaan, dan komentar pengguna dapat mengarahkan perhatian pada bagian tertentu. Dalam kajian komunikasi, proses penonjolan aspek-aspek tertentu ini dikenal sebagai framing atau pembingkaian. Dalam kontroversi keagamaan, pembingkaian menjadi penting karena penilaian terhadap suatu tindakan dapat terbentuk sebelum masyarakat memperoleh informasi yang memadai mengenai keseluruhan peristiwa.
Perbedaan sudut pandang bukan berarti seluruh penilaian memiliki dasar yang sama kuat. Justru karena itulah masyarakat perlu membedakan antara fakta yang telah diketahui, keterangan yang masih diperiksa, dan pendapat yang berkembang di ruang publik.
Persoalan menjadi semakin sensitif ketika menyangkut keyakinan agama. Simbol dan ajaran keagamaan memiliki makna yang mendalam bagi pemeluknya sehingga tindakan yang dianggap merendahkannya dapat memunculkan kemarahan dan ketersinggungan. Reaksi semacam ini merupakan kenyataan sosial yang perlu dipahami. Namun, besarnya ketersinggungan publik tidak dapat menggantikan kebutuhan akan informasi yang akurat dan proses hukum yang bertanggung jawab.
Persoalan yang patut dicermati bukan sekadar cepatnya sebuah rekaman menjadi viral, melainkan kemungkinan penilaian publik terbentuk ketika informasi mengenai peristiwa itu belum lengkap. Di ruang digital, kecaman dapat berkembang dengan cepat, sementara pemeriksaan fakta dan proses hukum memerlukan tahapan yang tidak dapat dilewati begitu saja. Perbedaan ritme ini menghadirkan persoalan serius: masyarakat dapat merasa telah mencapai kesimpulan ketika lembaga yang berwenang masih berusaha memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Kontroversi yang berkembang melalui media digital melibatkan lebih banyak pihak daripada orang yang pertama kali melakukan tindakan. Pembuat konten menentukan apa yang diucapkan atau diperlihatkan, penonton dapat memengaruhi arah interaksi melalui komentarnya, sedangkan pengguna yang membagikan ulang rekaman turut memperluas jangkauan peristiwa. Peran yang berbeda-beda ini membawa tanggung jawab etis masing-masing, terutama ketika tindakan komunikasi berpotensi memperbesar konflik atau membentuk penilaian berdasarkan informasi yang belum lengkap.
Tanggung jawab tersebut tidak berarti semua pihak memiliki kedudukan hukum yang sama. Perbuatan yang diduga melanggar hukum harus diperiksa berdasarkan ketentuan yang berlaku, dengan tetap menghormati asas praduga tak bersalah. Adapun tanggung jawab etis dalam berkomunikasi memiliki ruang yang lebih luas daripada persoalan pemidanaan.
Dua kasus dugaan penistaan agama di Pamekasan dan Sumatera Utara memperlihatkan bahwa kontroversi keagamaan dapat terus berkembang setelah siaran langsung berakhir. Rekaman yang beredar memperluas perhatian publik, tetapi tidak selalu membawa seluruh konteks yang diperlukan untuk memahami kejadian. Di sinilah tanggung jawab komunikasi digital menemukan ujian terpentingnya. Ketika masyarakat dapat menyaksikan suatu tindakan dan segera membentuk penilaian terhadapnya, kesediaan untuk memeriksa informasi dan menghormati proses hukum justru menjadi semakin penting. Sebab, luasnya penyebaran sebuah rekaman tidak pernah dengan sendirinya menjamin kedalaman pemahaman terhadap peristiwa yang direkamnya.




Tinggalkan Balasan