
Tangkapan layar video rekaman CCTV konten video penampakan pocong yang sempat viral di Bangkalan (Dok. Istimewa) BANGKALAN, detektifjatim.com – Video yang menampilkan sosok pocong membawa clurit dan sempat viral di media sosial akhirnya terungkap sebagai konten rekayasa.
Polres Bangkalan memastikan video tersebut dibuat oleh sekelompok pemuda di Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, dan tidak menggambarkan kejadian yang sebenarnya.
Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, mengatakan pihaknya telah melakukan klarifikasi terhadap para pembuat video setelah rekaman tersebut ramai diperbincangkan dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Video pocong tersebut merupakan konten yang dibuat untuk hiburan. Isu adanya pocong seperti yang beredar dalam video itu adalah hoaks,” kata Agung, Senin (1/6/2026).
Berdasarkan hasil penelusuran polisi, ide pembuatan video muncul pada Sabtu (30/5/2026) malam saat sejumlah pemuda berkumpul dan bermain gaplek di sebuah gardu di Dusun Rampak, Desa Mrandung. Saat itu, salah seorang di antara mereka mengusulkan membuat video pocong untuk dijadikan konten hiburan.
Usulan tersebut kemudian disepakati dan para pemuda itu membagi peran. Seorang pemuda ditunjuk sebagai pemeran pocong, sementara yang lain bertugas mengatur lokasi perekaman menggunakan kamera CCTV yang terpasang di teras rumah warga.
Untuk mendukung adegan, mereka menggunakan mukena putih bekas yang diambil dari gudang serta clurit sebagai properti. Perekaman dilakukan pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 01.00 WIB sesuai skenario yang telah disusun sebelumnya.
Setelah rekaman CCTV diperoleh, video berdurasi sekitar satu menit itu diunggah ke grup WhatsApp kampung pada Minggu sore. Tak lama kemudian, beberapa anggota grup membagikannya ke status WhatsApp masing-masing hingga akhirnya menyebar luas dan viral di berbagai platform media sosial.
Menurut Agung, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada unsur mistis maupun kejadian nyata sebagaimana yang digambarkan dalam video tersebut. Seluruh adegan merupakan hasil rekayasa yang dibuat untuk menarik perhatian.
Polisi pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi atau video yang beredar di media sosial sebelum memastikan kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak resah dan lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Jangan langsung mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, para pembuat video telah dipertemukan dengan tokoh masyarakat setempat. Dalam mediasi tersebut mereka mengakui perbuatannya dan menyampaikan permohonan maaf karena konten yang dibuat telah menimbulkan kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat.
“Pembuat konten sudah kami mediasi dengan tokoh masyarakat dan mereka telah meminta maaf,” pungkas Agung. (san/ady)

No Comments