x

SI MISKIN TIDAK SEDANG MENCARI TUHAN MELAINKAN MENCARI KEADILAN

3 minutes reading
Wednesday, 19 Nov 2025 13:24 414 detektif_jatim

Oleh : Ari Bali

Dalam kehidupan desa yang sederhana, persoalan keadilan sering kali terdengar seperti dongeng si Kaya dan si Miskin, si kaya pemilik kuasa dan si miskin merintih menangis mencari keadilan, bukan seperti cerita hidup mereka yang hanya membaca buku tebal atau ruang pengadilan yang ber-AC. Padahal bagi rakyat kecil, keadilan adalah kebutuhan paling dasar-bahkan lebih mendesak daripada mimpi-mimpi besar tentang kekuasaan atau religiusitas. Karena itulah, ketika Hosen, seorang warga desa yang hidup dengan segala keterbatasannya, dipukul oleh kepala desanya sendiri, ia tidak sedang mencari Tuhan. Ia sedang mencari keadilan.

Kisah ini bukan perkara sepele. Hosen bukan hanya dipukul secara fisik, tetapi juga dihantam secara sosial oleh kekuasaan yang seharusnya melindungi, bukan menindas. Sang kades, dengan pengaruhnya yang kuat dan jaringan kekuasaan yang rapi, berdiri sebagai tembok tebal yang seolah mustahil ditembus. Dalam situasi seperti itu, rakyat kecil biasanya hanya diberi dua pilihan : DIAM atau TENGGELAM. Namun Hosen Menolak tunduk.

Dengan keberanian yang lahir dari keterdesakan, ia mencari siapa saja yang masih punya telinga dan hati. Ia mengetuk pintu-pintu, mendatangi tokoh-tokoh yang mungkin bisa memberi jalan. Ia berbicara dengan suara yang kadang bergetar, bukan karena takut, tetapi karena takut tidak didengar. Itulah perjuangan rakyat kecil: bukan melawan kekuasaan besar, tetapi melawan sunyi yang mematikan.

Dan di sinilah pertanyaan penting muncul. Mengapa orang seperti Hosen harus berjuang sendirian? Mengapa ketika haknya dirampas, ia harus berkeliling memohon dukungan, sementara pelaku kekerasan berjalan dengan dada tegap? Bukankah negara hadir untuk masyarakat, bukan untuk membentengi penguasa?

Sering kali, orang miskin digambarkan sebagai sosok yang paling dekat dengan Tuhan. Namun dalam kenyataan pahitnya, mereka tidak mencari Tuhan-mereka mencari keadilan yang seharusnya diberikan oleh manusia, oleh negara, oleh sistem sosial yang mengaku demokratis. Ketika keadilan tidak berpihak pada mereka, mereka tidak kehilangan iman kepada Tuhan :, mereka kehilangan kepercayaan kepada manusia yang memegang kuasa.

Kasus Hosen hanyalah salah satu potret kecil dari persoalan besar yang mengakar. Ketika seorang kades bisa memukul warganya tanpa takut konsekuensi, itu berarti ada sesuatu yang sangat salah dalam struktur sosial kita. Ketika korban harus berjuang sendiri, itu berarti kita belum benar-benar menjadi masyarakat yang adil dan beradab.

Hosen bukanlah simbol kelemahan. Ia adalah simbol keberanian rakyat kecil yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Ia mengingatkan kita bahwa keadilan bukan barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang berkantong tebal. Keadilan adalah hak, dan hak itu tidak boleh ditawar.

Karena itu, perjuangan Hosen seharusnya menjadi panggilan bagi kita semua. Jangan biarkan kekuasaan bertingkah seolah ia adalah sumber hukum. Jangan biarkan ketidakadilan ditutup oleh senyum pejabat atau kekuasaan yang tidak tersentuh. Dan yang paling penting : jangan biarkan rakyat kecil harus mencari-cari keadilan sendirian.

Sebab pada akhirnya, si miskin tidak sedang mencari Tuhan. Ia sedang mencari kita dan orang-orang yang peduli, (masyarakat, hukum, dan negara) yang seharusnya berdiri di sisinya. Ia sedang mencari keadilan, sesuatu yang tak seharusnya sulit ditemukan di negeri yang mengaku beradab.

Si miskin datang dari pelosok Desa ke kota bukan untuk menghamburkan uang melainkan mencari keadilan.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x