
Penyuluhan ini merupakan salah satu program unggulan KKN UA posko 12 Sumenep, Detektifjatim.com– Sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat, Posko 12 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah, Sumenep, menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kesehatan yang bertemakan pemanfaatan olahan kulit pisang bagi kesehatan kulit.
Acara yang berlangsung pada Selasa, 8 September 2026, ini dihelat di Pondok Pesantren Raudlatul Amal yang terletak di Gadu Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep.
Dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan, dr. Muhammad R. Rezqi H, kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan komprehensif kepada masyarakat, khususnya para santri dan tenaga pendidik, mengenai pentingnya merawat kulit sekaligus mengenali khasiat bahan alami yang selama ini kerap terabaikan.
Kegiatan yang diikuti oleh kurang lebih 43 peserta, yang terdiri atas siswa-siswi SMP Islam dan Madrasah Aliyah Raudlatul Amal beserta para guru, berlangsung dengan suasana hangat dan penuh semangat.
Sejak awal pemaparan, para peserta tampak sangat fokus dan menunjukkan ketertarikan yang tinggi, terutama ketika narasumber mulai menguraikan ciri-ciri kulit yang sehat, seperti kelembapan yang terjaga, elastisitas yang baik, permukaan yang halus, warna yang relatif seragam, serta bebas dari rasa gatal dan perih.
Penjelasan ini memberikan kesadaran baru bahwa kesehatan kulit bukanlah sekadar persoalan estetika, melainkan cerminan dari fungsi perlindungan tubuh yang bekerja secara optimal.
Dalam sesi berikutnya, dr. Muhammad R. Rezqi H menyoroti salah satu masalah kulit yang paling umum dihadapi oleh remaja, yakni jerawat atau acne vulgaris.
Ia menjelaskan bahwa jerawat merupakan kondisi kulit kronis yang timbul akibat gangguan pada unit pilosebasea, yang dapat memicu munculnya lesi peradangan maupun tanpa peradangan, serta berpotensi meninggalkan bekas dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh remaja, tetapi dalam sejumlah kasus dapat berlanjut hingga masa dewasa. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perawatan kulit yang tepat menjadi sangat krusial, agar para peserta tidak terjebak dalam tren perawatan semata, melainkan mampu mengambil langkah berdasarkan ilmu yang benar.
Lebih mendalam lagi, narasumber memaparkan berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kemunculan jerawat, mulai dari penebalan lapisan kulit dan penyumbatan folikel rambut, produksi minyak berlebih, hingga peran bakteri Cutibacterium acnes serta respons peradangan tubuh.
Jerawat pun dapat hadir dalam wujud komedo terbuka dan tertutup yang tidak meradang, maupun dalam bentuk papul, pustul, hingga nodul yang bersifat inflamasi.
Pengetahuan tentang akar persoalan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir peserta, agar mereka tidak hanya terfokus pada penghilangan jerawat secara instan, tetapi juga memahami pemicu mendasar yang perlu diantisipasi sejak dini.
Puncak penyampaian materi beralih pada potensi luar biasa dari kulit pisang yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah rumah tangga. dr. Muhammad R. Rezqi H mengungkapkan bahwa kulit pisang menyimpan beragam senyawa bioaktif, terutama antioksidan golongan fenolik dan nonfenolik seperti asam askorbat, karoten, serta sianidin, yang memiliki kaitan erat dengan aktivitas antiradang dan perlindungan sel-sel kulit.
Temuan menarik yang dipaparkan menunjukkan bahwa kulit pisang mentah yang diolah dengan metode dekokta menghasilkan aktivitas antioksidan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kulit pisang matang segar, yang dalam presentasi disebut tidak menunjukkan efek hambatan maupun perlindungan antioksidan yang berarti.
Antusiasme peserta mencapai puncaknya ketika sesi tanya jawab dibuka. Salah satu pertanyaan kritis dilontarkan oleh Saniadatus Maulida, yang menanyakan apakah produk perawatan kulit berbahan alami selalu lebih aman dibandingkan produk sintetis, atau justru dalam kondisi tertentu bahan alami dapat menimbulkan masalah pada kulit.
Pertanyaan ini mencerminkan ketertarikan peserta untuk menggali informasi secara lebih mendalam dan kritis, terutama di tengah gempuran produk perawatan berbahan alami yang kian populer.
Diskusi yang mengalir pun membuka kesadaran bersama bahwa kata “alami” tidak lantas menjamin kesesuaian atau keamanan bagi semua jenis kulit, karena efektivitasnya sangat bergantung pada karakteristik kulit individu serta cara pengolahan bahan yang digunakan.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, Posko 12 KKN Universitas Annuqayah tidak hanya menyampaikan edukasi tentang kesehatan kulit dan pemanfaatan kulit pisang, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memandang ulang potensi sumber daya alam di sekitar mereka.
Dengan penekanan pada pencegahan jerawat melalui kebersihan wajah, manajemen stres, dan pola makan yang bijak, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan sikap selektif dan cerdas dalam memilih produk perawatan kulit.
Pada akhirnya, para peserta tidak sekadar membawa pulang pengetahuan baru, melainkan juga kesadaran untuk merawat diri secara holistik dan berbasis pada informasi yang akurat serta bertanggung jawab. (*/Zun)

Tidak ada komentar