
Oleh: Aboonk
Romli Muktamar ke-35 NU asal Madura.
Usai dibukanya gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, gerak-gerik peserta sidang Muktamar sulit diprediksi. Ada yang langsung balik kanan dengan kendaraannya, ada yang langsung cari tongkrongan untuk sekadar menikmati kopi hitam, ada pula yang sibuk berswafoto di depan photobooth Muktamar ke-35 NU yang disediakan panitia.
Catatan penulis sebagai Rombongan Liar (Romli) Muktamar ke-35 NU ini tidak mau bahas panjang lebar persoalan gerak-gerik peserta, melainkan lebih kepada menuangkan hasil bincang-bincang santai di warung kopi, dekat arena Muktamar ke-35 NU.
Ada beberapa poin menarik yang penulis dapatkan dari hasil diskusi dengan beberapa pemuda NU yang senasib dan seperjuangan, sama-sama Romli. Di antaranya, menguatnya tiga figur calon Ketua Umum PBNU yang disokong oleh tiga pilar berbeda.
Pertama, nama KH. Adul Hakim Mahfudz yang akrab disapa Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang juga dikenal pengusaha itu disokong oleh Syaifullah Yusuf. Gus Ipul, sapaan akrab Syaifullah Yusuf yang saat ini menjabat Menteri Sosial menginginkan Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, dipasangkan dengan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU.
Kedua, KH. Muhammad Yusuf Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo dan Asrama Pelajar Islam Syubbanul Wathon Secang, Magelang, merupakan Mantan Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah. Gus Yusuf, sapaan akrabnya mendapat sokongan dari A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketua Umum PKB, yang saat ini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia pada Kabinet Merah Putihnya Prabowo Subianto.
Ketiga, KH. Zulfa Mustofa. Nama yang tidak asing bagi seluruh pengurus NU, sebab, keponakan Mantan Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin tersebut ditunjuk sebagai Penjabat (PJ) Ketua Unum PBNU di tengah konflik internal PBNU beberapa waktu lalu. Menguatnya KH. Zulfa sebagai Calon Ketua Umum PBNU ini, karena muncul nama Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia yang menjadi penyokongnya.
Bagi sebagain besar Pengurus NU yang menjadi peserta sidang Muktamar ke-35 NU, melihat ketiga menteri Presiden Prabowo terlibat dalam cawe-cawe Muktamar itu bukanlah sesuatu yang asing, mengingat ketiga nama itu memiliki basis kekuatan, dan tidak pernah segan untuk ‘bertarung’ di balik layar, bahkan terang-terangan dalam beberapa gelaran Muktamar NU.
Selain tiga figur di atas, nama lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU saat ini. Gus Yahya yang maju dengan status petahana, tentu memiliki basis yang masih cukup kuat.
Akhirnya, penulis berharap, siapapun yang terpilih sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU ini bisa membawa NU ke arah yang lebih baik.

Tidak ada komentar