x

Judi Online sebagai Scam Digital: Manipulasi Komunikasi Persuasif dari Pesan Pribadi hingga Kolom Komentar

waktu baca 7 menit
Jumat, 28 Agu 2026 13:58 81 Jurnalis

OLEH: MUHAMMAD AHNU IDRIS

Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr PCNU Kabupaten Pamekasan

Penulis tidak pernah secara sengaja mencari informasi tentang judi online. Namun, promosi aktivitas tersebut justru berulang kali mendatangi penulis melalui berbagai saluran komunikasi digital. Pesan promosi masuk melalui SMS dan Telegram, dua saluran yang semestinya menjadi ruang komunikasi personal. Pada kesempatan lain, penulis menemukan promosi serupa di kolom komentar Facebook dan YouTube, khususnya pada unggahan yang memperoleh banyak penayangan, tanda suka, dan komentar. Pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa promosi judi online tersebar begitu agresif, bahkan kepada orang yang tidak pernah mencarinya?

Fenomena ini menunjukkan bahwa judi online bukan sekadar permainan yang tersedia di internet dan menunggu pemain datang. Industri tersebut secara aktif memburu perhatian pengguna melalui pesan pribadi dan ruang interaksi publik. Promotornya memanfaatkan teknologi komunikasi untuk menjangkau calon pemain, menciptakan rasa ingin tahu, dan membangun ilusi bahwa perjudian merupakan cara mudah memperoleh uang. Karena itu, judi online dapat dipahami sebagai scam digital yang bekerja melalui manipulasi komunikasi persuasif. Penipuannya bukan hanya terjadi ketika pemain kehilangan uang, melainkan telah dimulai sejak keuntungan ditonjolkan, risiko disembunyikan, dan iklan disamarkan sebagai kesaksian pengguna.

Promosi melalui SMS merupakan salah satu bentuk pendekatan yang paling langsung. Pesan masuk ke telepon seluler tanpa pernah diminta oleh penerimanya. Ruang privat yang seharusnya digunakan untuk komunikasi penting berubah menjadi saluran promosi perjudian. Pesan seperti ini biasanya dibuat singkat agar mudah dibaca dan segera menarik perhatian. Penerima diarahkan untuk menekan tautan atau mengunjungi platform tertentu tanpa memperoleh penjelasan memadai tentang identitas pengirim, sistem permainan, probabilitas kekalahan, dan risiko kecanduan. Kesederhanaan pesan justru menjadi kekuatannya karena penerima didorong bertindak sebelum melakukan pertimbangan secara mendalam.

Telegram memiliki pola yang berbeda. Platform ini memungkinkan promotor membentuk kanal atau kelompok yang diisi dengan informasi bonus, pengumuman kemenangan, testimoni, dan ajakan bermain. Di dalam ruang seperti itu, perjudian dapat terlihat sebagai aktivitas yang normal karena dibicarakan secara terus-menerus. Jumlah anggota kanal juga dapat menimbulkan kesan bahwa platform perjudian tertentu dipercaya banyak orang. Padahal, penerima tidak dapat memastikan apakah anggota, testimoni, ataupun percakapan yang muncul benar-benar autentik. Komunitas digital tersebut akhirnya tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memproduksi kepercayaan semu.

Promosi judi online bahkan menumpang pada popularitas konten orang lain. Penulis sering menemukannya di kolom komentar YouTube, terutama pada video yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi. Fenomena serupa juga terlihat di Facebook dan beberapa platform media sosial lainnya. Promotor tampaknya menyadari bahwa konten populer telah menghimpun perhatian publik. Mereka tidak perlu membangun audiens sendiri, tetapi cukup menyusupkan promosi ke dalam kolom komentar yang ramai. Praktik ini dapat disebut sebagai pembajakan atensi digital: perhatian yang dikumpulkan kreator melalui karya dan interaksi dengan audiens dimanfaatkan pihak lain untuk menyebarkan promosi perjudian.

Komentar promosi kadang tidak tampak sebagai iklan formal. Pesan dapat dikemas menyerupai pengalaman pribadi atau rekomendasi spontan. Kemudian muncul balasan yang seolah-olah membenarkan klaim tersebut. Pola ini menimbulkan kesan bahwa beberapa pengguna independen mempunyai pengalaman positif dengan platform yang dipromosikan. Namun, pembaca tidak mengetahui apakah akun-akun tersebut dimiliki pengguna nyata, promotor, afiliator, atau sistem otomatis. Ketika iklan disamarkan sebagai pengalaman personal, batas antara informasi dan manipulasi sengaja dikaburkan.

Cara kerja pesan tersebut dapat dijelaskan melalui teori psikologi komunikasi yaitu Elaboration Likelihood Model yang dikembangkan Richard E. Petty dan John T. Cacioppo. Teori ini menjelaskan bahwa pesan persuasif dapat diproses melalui jalur sentral dan jalur periferal. Jalur sentral melibatkan penilaian kritis terhadap argumen dan bukti. Sebaliknya, jalur periferal bergantung pada isyarat sederhana, seperti popularitas, daya tarik visual, kredibilitas sumber, pengulangan, dan reaksi orang lain (Petty & Cacioppo, 1986).

Promosi judi online lebih banyak menggunakan jalur periferal. Penerima tidak diajak menghitung kemungkinan menang dan kalah atau memeriksa keuntungan matematis yang dimiliki bandar. Perhatian justru diarahkan kepada bonus, testimoni kemenangan, jumlah anggota, kemudahan bermain, dan klaim mengenai pencairan dana. Di kolom komentar, jumlah tanda suka dan balasan dapat berfungsi sebagai isyarat popularitas. Audiens didorong mempercayai pesan berdasarkan penampilan luarnya, bukan berdasarkan pemeriksaan rasional terhadap struktur perjudian.

Manipulasi ini juga bekerja melalui framing. Judi online tidak dibingkai sebagai aktivitas mempertaruhkan uang, tetapi sebagai permainan, hiburan, peluang mendapatkan penghasilan, atau jalan keluar dari kesulitan ekonomi. Pilihan kata yang menekankan bonus dan kemenangan mengarahkan pengguna untuk memandang perjudian dari sisi keuntungan. Sebaliknya, kekalahan pemain, keuntungan bandar, potensi utang, dan gangguan psikologis ditempatkan di luar bingkai pesan. Realitas tidak disampaikan secara utuh karena hanya bagian yang menguntungkan promotor yang ditonjolkan.

Kolom komentar juga memanfaatkan prinsip social proof, yaitu kecenderungan seseorang menganggap sesuatu benar atau layak dipercaya ketika terlihat diterima banyak orang. Komentar pendukung, testimoni, tanda suka, jumlah anggota grup, dan percakapan antarakun menciptakan dukungan sosial semu. Jika seorang pengguna melihat banyak akun membicarakan kemenangan, ia mungkin menyimpulkan bahwa peluang tersebut nyata. Padahal, popularitas digital dapat direkayasa dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa platform tersebut aman atau menguntungkan.

Teori pembelajaran sosial Albert Bandura turut menjelaskan bahaya promosi semacam ini. Manusia dapat mempelajari perilaku dengan mengamati tindakan orang lain dan konsekuensi yang ditampilkan (Bandura, 1977). Ketika promotor memperlihatkan orang yang diklaim memperoleh kemenangan, audiens hanya menyaksikan konsekuensi positif. Kekalahan tidak ditampilkan. Representasi yang timpang ini dapat mendorong peniruan karena calon pemain membayangkan akan memperoleh hasil serupa. Dalam konteks tersebut, testimoni kemenangan tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menyediakan model perilaku untuk ditiru.

Setelah seseorang mulai bermain dan mengalami kerugian, mekanisme psikologis lain dapat mempertahankannya. Teori disonansi kognitif Leon Festinger menjelaskan ketidaknyamanan yang muncul ketika keyakinan bertentangan dengan kenyataan (Festinger, 1957). Pemain mungkin percaya bahwa judi online dapat menghasilkan uang, tetapi kenyataannya terus mengalami kekalahan. Untuk mengurangi pertentangan itu, ia dapat menyalahkan waktu bermain, pola yang digunakan, atau kurangnya modal. Alih-alih berhenti, ia kembali bermain dengan harapan dapat mengembalikan uang yang hilang.

Keadaan tersebut melahirkan perilaku chasing losses, yaitu mengejar kerugian dengan memasang uang kembali. Pemain merasa satu kemenangan akan menyelesaikan masalah, padahal setiap permainan baru membuka peluang kerugian berikutnya. Kemenangan kecil yang muncul sesekali semakin memperkuat harapan. Pemain tidak lagi berjudi untuk memperoleh kesenangan, tetapi untuk memulihkan kondisi keuangan dan harga dirinya. Pada tahap ini, kerugian finansial telah berubah menjadi tekanan psikologis.

Dampaknya dapat berupa kecemasan, stres, gangguan tidur, rasa bersalah, kebohongan, hilangnya kontrol diri, dan depresi. Masalah tersebut kemudian meluas menjadi utang, penurunan produktivitas, konflik keluarga, dan tindakan berisiko. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa perjudian dapat mengancam kesehatan, meningkatkan kejadian gangguan mental dan risiko bunuh diri, serta mendorong kemiskinan karena pengeluaran rumah tangga dialihkan dari kebutuhan pokok (World Health Organization, 2024). Oleh sebab itu, korban tidak tepat dipandang hanya sebagai individu yang kurang rasional. Kerentanan mereka telah dieksploitasi oleh sistem komunikasi dan permainan yang dirancang untuk menarik serta mempertahankan keterlibatan.

Masifnya persoalan ini terlihat dari data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Perputaran dana judi online di Indonesia sejak 2017 hingga kuartal III 2025 telah melampaui Rp1.000 triliun dengan ratusan juta transaksi (PPATK, 2025). Angka tersebut memperlihatkan bahwa judi online bukan masalah personal semata, melainkan persoalan sosial yang didukung oleh ekosistem promosi, teknologi, jaringan pembayaran, dan manipulasi psikologis.

Karena itu, pemberantasan judi online tidak cukup dilakukan dengan memblokir situs. Tindakan juga harus diarahkan pada jaringan komunikasinya: nomor pengirim SMS, kanal Telegram, akun promotor, afiliator, komentar spam, akun otomatis, dan pola penyamaran iklan. Platform digital perlu meningkatkan moderasi komentar, mendeteksi interaksi tidak autentik, dan menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah. Pada saat yang sama, masyarakat memerlukan literasi komunikasi digital agar mampu mengenali testimoni palsu, popularitas semu, dan manipulasi pesan.

Pada akhirnya, judi online tidak benar-benar menjual kemenangan. la menjual ilusi bahwa kemenangan berada sangat dekat dan dapat diperoleh siapa saja. Ilusi tersebut dikirimkan melalui pesan pribadi, dipelihara dalam kanal digital, dan dinormalisasi melalui kolom komentar. Ketika keuntungan ditonjolkan, risiko disembunyikan, dan dukungan sosial direkayasa untuk menarik setoran pengguna, judi online telah menunjukkan dirinya sebagai scam digital yang bekerja melalui manipulasi komunikasi persuasif. Yang dipertaruhkan bukan hanya uang, melainkan juga kesehatan psikologis, hubungan keluarga, dan masa depan manusia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x