x

Keterbatasan Biaya di Rumah Sakit, Anak di Pamekasan Meninggal Dunia

waktu baca 3 menit
Sabtu, 26 Sep 2026 04:32 225 Jurnalis

PAMEKASAN, detektifjatim.com – Nasib pilu dirasakan Ida Saidah (35) bersama suaminya, Mustofa (43) di rumah duka di Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Kamis (24/9/2026).

Pasalnya, anak ketiga mereka, Mohammad Gazal Al Farizki (3) meninggal di RSUD Mohammad Noer Pamekasan pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 12.30 WIB.

Mereka menceritakan kisah anaknya yang harus meninggal akibat keterbatasan biaya. Sempat mengurus kartu BPJS, tapi terkendala proses aktivasi.

“Saya sempat mengurus BPJS untuk mendapatkan pelayanan gratis, tapi harus menunggu lama, sementara anak sudah sakit,” kata Ida Saidah, Kamis (24/9/2026).

Ia bercerita, sejak sakit anaknya sempat dirawat mandiri di rumah. Namun, kesehatannya tidak membaik. Ia pun berusaha membawanya ke bidan hingga klinik kesehatan, tapi usahanya gagal.

Akhirnya, anak bungsunya dibawa ke Puskesmas Bandaran dengan pelayanan umum. Namun, hasil pengecekan kondisi tubuh anaknya normal.

“Karena kondisinya normal saya bawa pulang agar biaya tidak besar. Karena di Puskesmas biaya kamar per hari Rp 300 ribu, itupun belum biaya obat,” ucapnya.

Di Puskesmas, ia berusaha mencari uang untuk biaya anaknya. Total Rp 550.000, termasuk biaya lab luar.

Saat itu, ia bingung, ayah korban tidak melaut, dan Ida Saidah hanya ibu rumah tangga. Namun, kondisi anaknya tidak sembuh, meski sempat membaik.

“Karena tidak ada biaya, anak saya diarahkan untuk di bawa ke RSUD Mohammad Noer untuk mendapatkan pelayanan gratis Biakes Maskin,” katanya.

Setelah satu hari di rumah sakit, anak Mohammad Gazal Al Farizki masuk ruang ICU karena kondisinya menurun. Saat itu, keluarga semakin bingung.

Tidak berselang lama, kabar mengejutkan juga diterima keluarga. Anak ketiga Ida Saidah harus dirujuk ke RSUD dr Soetomo, Surabaya untuk dilakukan CT Scan otak.

Pihak keluarga pun menyetujui, demi kesembuhan anaknya. Namun, pihak rumah sakit tidak kunjung membawa anaknya.

“Saat itu, saya tanya terus ke dokter tapi tak kunjung dirujuk. Alasannya belum ada informasi dari rumah sakit, juga bilang belum ada kamar,” tuturnya.

Lima hari berlalu, kondisi Muhammad Gazal Al Farizki tak kunjung membaik. Bahkan, Selasa pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, pihak keluarga menerima kabar anaknya kritis.

Ida Saidah hanya pasrah. Anaknya tidak segera dibawa ke Surabaya meski sudah beberapa hari bertanan di Pamekasan.

“Pagi saya dipanggil, karena di ruang ICU tidak bisa didampingi, anak saya sudah kritis, sekitar pukul 12.30 WIB meninggal,” katanya.

Ida Saidah menyesali kondisinya yang tidak bisa berbuat banyak karena tidak punya biaya.

“Seandainya saya punya uang, saya bawa kemanapun tanpa menunggu dari rumah sakit. Selama itu, saya sudah mengikuti apapun saran dari rumah sakit,” ucapnya.

Ia berharap, musibah yang menimpanya tidak terjadi ke siapapun setelah ini. Pelayanan kesehatan gratis harusnya lebih mudah untuk masyarakat miskin.

“Saya merasa, apa karena saya menggunakan Biakes Maskin, anak saya tidak segera dirujuk ke Surabaya,” ungkapnya.

Kini, Ida Saidah dan suaminya fokus merawat kedua anaknya, Safaniatus Sholeha dan Zahra Lafatunisa Aisyah Putri.

“Anak saya, Mohammad Gazal Al Farizki, semoga bertemu di Syurga nanti. Dia meninggal saat sedang lucu-lucunya,” tutupnya. (*/ady).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x