
Oleh: Moh Azmi
Wartawan Paruh Waktu
Dalam hidup kita semua saling memanfaatkan, dengan tujuan kita masing-masing. Benar dan salah, semua orang mempunyai perspektif yang berbeda.
Sherly Tjoanda
Gubernur Maluku Utara
Mengenal MBG
Siapa yang tidak mengenal Makanan Bergizi Gratis (MBG), program ambisius Presiden Prabowo Subianto ini resmi diluncurkan setelah terbitnya Perpres No. 83 Tahun 2024 dan Perpres 115 Tahun 2025.
Program ini, merupakan wujud nyata atau pembuktian atas ‘janji politik’ tatkala Presiden Prabowo-Gibran berkampanye.
Saat ini, ‘pada akar rumput’ setiap kabupaten/kota, menjadikan program ini sebagai ‘primadona’ bagi ‘kaum borjuis’, termasuk salah satunya di kota Gerbang Salam Pamekasan Madura.
Mengapa penulis sebut ‘kaum borjuis’. Alasannya, untuk membuat satu dapur MBG, membutuhkan modal fantastis yang harus dipersiapkan. Nominalnya tidak sedikit, jika memulai pembangunan dari nol, biayanya bisa tembus Rp2 miliar. Sehingga, ‘kaum borjuis’ memiliki peluang cukup besar untuk mendirikan.
Kendati demikian, kucuran modal fantastis ini nantinya cepat menjadi untung karena banyak yang bisa dimanfaatkan, hal ini setelah izin pengelolaan dapur keluar dan dapur mulai beroperasi. Keuntungannya dari mana? Penulis menjelaskan di akhir.
Elit MBG Pamekasan
Setelah menelusuri dan berbincang dengan sejumlah pihak, ada sejumlah fakta menarik jika membahas dapur MBG di Pamekasan.
Dengan jumlah dapur sebanyak 117 yang telah beroperasi saat ini, menandakan program MBG di Pamekasan, sebagaimana penulis sebutkan diawal, menjadi ‘primadona’.
Uniknya, ratusan dapur ini mengerucut pada segelintir elit yang menjadi ‘penguasa’. Mereka, berlatar belakang amatlah beragam.
Penulis menemukan, mayoritas penguasanya orang berlatar belakang Partai Politik (Parpol), mulai dari Kader, pengurus, hingga anggota legislatif (DPRD), pun terdapat pula pejabat tinggi Pamekasan yang statusnya seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), serta pengusaha.
Akan tetapi, atas keberagaman ini, ada pengendali, mereka terbagi menjadi tiga pasukan kuat, sebagaimana penuturan seorang yang penulis temui.
“Ada tiga, tim Lawangan Daya (Lada) mantan petinggi Pamekasan, Tim Barat (partai merah putih milik penguasa saat ini), dan Tim Selatan (partai biru, milik penguasa Indonesia sebelumnya),” kata, ABCD sebagai nama samaran.
Tidak cukup sampai disitu, penulis menanyakan kepada ABCD, tentang bagaimana mekanisme pembagian pos-pos agar bisa menanamkan modal dan sama-sama mendapatkan dapur dengan cara halus.
ABCD bercerita, orang-orang dari ketiga tim ini tidak menyatu atas latar belakang yang sama, mereka tergabung dan bekerja sama, terutama pada tim biru dan tim Lada.
“Dari sejumlah partai yang ada, mereka tidak menyatu pada tiga tim ini, sederhananya bercampur,” terangnya.
Dari ketiga tim, penulis menelusuri ke sejumlah pihak, meski tidak semuanya mau bercerita secara detail untuk menyampaikan. Tetapi, melalui informasi yang diterima, penulis mendapatkan kesimpulan.
Dari ketiga tim tersebut, terdapat tujuh pemodal ‘penguasa’ dengan julukan ‘tujuh naga’ MBG di Pamekasan. Tidak main-main, satu dari ketujuh orang dengan julukan ‘naga’ ini, masing-masing memiliki dapur hingga berjumlah 14.
Bahkan, belasan dapur dari tujuh naga ini berdiri hingga keluar Pamekasan, seperti di Kabupaten Sampang dan di Kabupaten Sumenep.
MBG Program Menjanjikan
Bukan tanpa alasan mengapa penulis menyebut MBG sebagai program yang menjanjikan. Pasalnya, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meraup sejumlah keuntungan dari MBG tersebut.
Siapa sangka, pada satu dapur MBG, sewa tempat tembus pada nominal Rp6 juta rupiah setiap harinya.
Dengan demikian, pada 259 hari kerja selama satu tahun, dikali Rp6 juta sewa tempat, menghasilkan biaya sewa pada satu dapur selama satu tahun sebesar Rp1,5 miliar.
Anggaran lain, seperti pada sewa mobil kisaran Rp5 juta, nominal ini bergantung pada tahun plat nomor mobil tersebut. Mobil dengan plat tahun 2024 dan 2025, harga sewa mengikuti tabel dengan harga Rp5.6 juta.
Disamping itu, sewa mobil dengan Tahun 2023 kebawah, harga sewanya mengikuti rumus, yakni harga jual pasaran mobil sesuai tahun dikalikan 2,5 persen.
Tidak cukup sampai disitu, keuntungan lain yang bisa dimanfaatkan, agar segera kembali modal yakni anggaran khusus per 12 hari, kucuran dana cair sebesar Rp500 juta per dapur untuk biaya operasional makanan.
Dana fantastis ini berbeda dengan gaji karyawan, mereka mendapat gaji dengan nominal sesuai variasi jumlah siswa yang dimiliki setiap dapur tersebut, gajinya diwajibkan diatas Rp100 hingga 120 ribu perhari.
Oleh karenanya, tidak salah ketika beberapa pihak mengatakan, jika MBG ini sebagai salah satu program yang cukup menjanjikan.. sekian dan terimakasih, maaf.
No Comments