x

Ketika Radikalisme Masuk ke Beranda

waktu baca 6 menit
Senin, 28 Sep 2026 09:54 437 Jurnalis

Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr PCNU Kabupaten Pamekasan

Radikalisme kini tidak selalu datang melalui pertemuan tertutup atau orang asing yang mengetuk pintu. la bisa hadir di tempat yang jauh lebih dekat: layar telepon genggam yang setiap hari berada di tangan anak-anak kita. ANTARA (2 September 2026) memberitakn pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eddy Hartono, bahwa sejak Januari hingga 26 Agustus 2026 terdapat 620 anak berusia 11-18 tahun di 34 provinsi yang masuk kategori terpapar paham kekerasan maupun radikalisme. Paparan itu berlangsung melalui berbagai ruang digital, seperti media sosial, podcast, forum, YouTube, dan komunitas digital.

Angka tersebut tentu mengkhawatirkan. Namun, kita tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan bahwa anak yang terpapar paham radikal otomatis menjadi teroris. Terpapar adalah satu hal, menerima dan menjadikannya sebagai keyakinan adalah hal lain. Apalagi sampai terlibat dalam tindakan kekerasan. Dalam pemberitaan yang sama, Eddy juga mengingatkan agar masyarakat tidak memberikan stigma. Persoalan menjadi lebih serius ketika mulai terjadi perubahan perilaku berupa pengagungan atau normalisasi kekerasan.

Lalu, mengapa media sosial menjadi penting dalam persoalan ini?

Jauh sebelum angka 620 anak itu muncul, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK, 2018) telah menemukan bahwa media sosial digunakan dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan terorisme. Tidak hanya untuk propaganda, tetapi juga radikalisasi, rekrutmen, komunikasi, bahkan pendanaan.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan penting. Pada masa ketika komunikasi masih sangat bergantung pada perjumpaan fisik, penyebaran paham radikal membutuhkan jaringan yang mempertemukan seseorang dengan orang lain. Jarak menjadi hambatan. Media sosial mengurangi hambatan itu. Seseorang di satu daerah dapat menerima pesan, mengikuti percakapan, dan membangun hubungan degan orang yang berada ratusan bahkan ribuan kilometer darinya. Dengan kata lain, internet bukan hanya membuat propaganda bergerak lebih cepat. la juga mengubah jangkauan sosial propaganda tersebut.

Masalah berikutnya, apa yang kita lihat di media sosial tidak selalu berhenti pada satu unggahan. Kita tentu pernah mengalaminya. Setelah beberapa kali menonton video dengan tema tertentu, konten serupa mulai bermunculan. Sistem yang ikut memilih dan merekomendasikan apa yang muncul di hadapan pengguna merupakan bagian dari kerja algoritma media sosial.

Jika berlangsung terus-menerus, seseorang dapat berada dalam lingkungan informasi yang lebih banyak mengulang dan menguatkan pandangan tertentu. Dalam kajian media digital, keadaan semacam ini sering dibicarakan melalui konsep echo chamber atau “ruang gema”. Seperti suara dalam sebuah ruang yang terus memantul, pandangan yang sama terdengar berulang-ulang dan seolah memperoleh pembenaran karena semakin sering dijumpai.

Namun, algoritma belum menjelaskan seluruh persoalan. Radikalisasi menyangkut manusia, dan manusia bukan hanya mencari informasi. la juga mencari hubungan, pengakuan, dan rasa memiliki.

Media sosial berbeda dari televisi. Pengguna tidak hanya duduk dan menonton. Mereka dapat memberi komentar, mengirim pesan, masuk ke grup, berbincang, memperoleh tanggapan, bahkan merasa diterima oleh orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya. Di sinilah propaganda dapat berubah dari sekadar pesan menjadi hubungan.

Titik Firawati (2025), dalam penelitiannya mengenai media sosial dan terorisme di Indonesia, menunjukkan bahwa ruang digital dapat memperluas hubungan sosial melampaui batas geografis. Orang yang tidak pernah bertemu secara langsung dapat berinteraksi dan membangun hubungan melalui ruang digital. Dalam ilmu sosial, hubungan seperti ini dapat dipahami melalui konsep social ties atau ikatan sosial.

Perbedaannya penting. Melihat sebuah propaganda tidak sama dengan berhubungan dengan orang-orang yang berada di balik atau di sekitar propaganda tersebut. Ketika seseorang mulai memperoleh teman, pengakuan, jawaban atas kegelisahannya, dan perasaan menjadi bagian dari suatu komunitas, daya tarik sebuah gagasan bisa menjadi lebih kuat. Media sosial dengan demikian bukan hanya tempat paham radikal disebarkan. la juga dapat menjadi tempat hubungan sosial dibangun di sekeliling paham tersebut. Persoalan ini semakin penting ketika yang kita bicarakan adalah anak dan remaja.

Mereka tidak memasuki internet sebagai manusia tanpa persoalan. Mereka membawa pertanyaan tentang dirinya, hubungan keluarga, pertemanan, kegelisahan, dan kebutuhan untuk diterima ke dalam ruang digital.

Huda, Runturambi, dan Syauqillah (2021) dalam penelitian tentang media sosial dan terorisme di kalangan remaja Indonesia menunjukkan bahwa kerentanan tersebut tidak berdiri pada satu faktor. Kondisi ekonomi, persepsi keterpinggiran sosial atau politik, keluarga dan jaringan sosial, paparan propaganda ekstremis, pencarian identitas kelompok, hingga hubungan dengan keluarga dan teman dapat ikut berperan.

Karena itu, seorang anak tidak mendadak menjadi radikal hanya setelah menonton satu video. Persoalannya menjadi lebih serius ketika pesan yang terus diterimanya bertemu dengan kegelisahan, pencarian identitas, kebutuhan untuk diterima, atau rasa ketidakadilan yang telah ada sebelumnya. Ketika proses menerima dan menguatnya pandangan radikal berlangsung atau diperkuat melalui ruang digital, proses tersebut biasa dibicarakan sebagai radikalisasi daring atau online radicalization.

Proses itu pun tidak berjalan seperti tangga yang anak-anaknya harus dilewati satu per satu. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC, 2024), melalui penelitian mengenai perekrutan dan eksploitasi anak oleh kelompok teroris di Indonesia, Irak, dan Nigeria, menunjukkan bahwa jalur keterlibatan anak bersifat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor. Teman sebaya, keluarga, komunitas, kebutuhan akan penerimaan dan rasa memiliki, kondisi individual, ideologi, hingga ketidakpuasan politik dapat saling berinteraksi.

Temuan tersebut mengingatkan kita agar tidak buru-buru memandang anak yang masuk dalam lingkungan radikal hanya sebagai ancaman keamanan. Kita juga harus melihat kemungkinan bahwa kerentanan mereka sedang dimanfaatkan. Pertanyaannya bukan hanya, “Mengapa anak itu memilih jalan tersebut?”, tetapi juga, “Siapa yang mendekatinya, apa yang ditawarkan kepadanya, dan kerentanan apa yang dimanfaatkan?”

Lantas, apakah jawabannya cukup dengan memblokir akun dan menghapus konten? Pemblokiran tetap diperlukan. Platform digital juga perlu mencegah akun yang telah diblokir dengan mudah muncul kembali. PPATK (2018) bahkan merekomendas pertukaran informasi antarpengelola media sosial agar pelaku yang akunnya telah dib tidak dengan mudah membuka akun baru pada platform lain. Namun, membersihkan I saja tidak menyelesaikan seluruh persoalan.

Literasi digital, misalnya, tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan telepon pintar atau membedakan berita benar dan palsu. Anak juga perlu belajar memahami mengapa sebuah konten muncul di berandanya, mengenali pesan yang memainkan kemarahan dan kebencian, serta berani mempertanyakan informasi yang terus-menerus membenarkan pandangannya.

Keluarga dan sekolah pun perlu menyediakan ruang bagi anak untuk bertanya tanpa segera menghakimi. Demikian pula komunitas keagamaan. Narasi keagamaan yang damai tidak cukup hanya hadir sebagai bantahan setelah propaganda radikal beredar. la harus mampu menjawab kegelisahan, pencarian makna, dan persoalan nyata yang dihadapi generasi muda. Sebab, ruang kosong dalam pencarian identitas akan selalu dapat dimasuki oleh siapa pun yang paling cepat menawarkan jawaban.

Beranda media sosial pada akhirnya bukan sekadar tempat mencari hiburan. la telah menjadi ruang tempat gagasan, identitas, dan rasa memiliki diperebutkan. Karena itu, melindungi generasi muda dari radikalisme digital tidak cukup dengan membersihkan layar mereka dari konten berbahaya. Kita juga perlu memastikan bahwa ketika mereka mencari jawaban, identitas, dan tempat untuk merasa diterima, kelompok radikal bukanlah pihak yang paling siap menyambut mereka.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x