x

Sosiologi UNESA Perkuat Literasi Bahaya Mikroplastik dan Pengelolaan Sampah pada Perempuan Nelayan Kenjeran

waktu baca 6 menit
Sabtu, 10 Okt 2026 14:06 204 Jurnalis

SURABAYA, detektifjatim.com – Program Studi Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat bersama kelompok perempuan nelayan di Balai RW 02, Kecamatan Bulak, kawasan pesisir Kenjeran, Surabaya, pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026.

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini diikuti 26 peserta dari kelompok perempuan nelayan di lingkungan setempat yaitu dari RT 1, 2 dan 3 yang sebelumnya telah terlibat dalam berbagai aktivitas pengelolaan sampah, termasuk bank sampah, pengomposan, dan sejumlah kegiatan lingkungan di kawasan pesisir.

Program pemberdayaan difokuskan pada penguatan literasi mengenai bahaya mikroplastik sekaligus menggali persoalan yang dihadapi masyarakat dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan lingkungan.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi mengenai sampah plastik dan ancaman mikroplastik yang disampaikan M. Haidzar Islam, S.Sos., S.Ant. dari Yayasan Bina Bhakti Lingkungan dan Bank Sampah Induk Surabaya.

Materi disampaikan secara interaktif dengan menghubungkan persoalan mikroplastik dengan aktivitas sehari-hari masyarakat pesisir. Para peserta diajak memahami bahwa ancaman sampah plastik tidak hanya berasal dari sampah yang terlihat secara kasatmata, tetapi juga dari partikel plastik berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke lingkungan dan tubuh manusia. Salah satu peserta mengaku materi tersebut membuka pemahaman baru mengenai persoalan plastik.

“Selama ini kan kita tidak tahu ya. Kita tahunya plastik itu yang ada saja, yang berserakan. Kita tidak tahu mikroplastik itu apa, makroplastik itu apa. Jadi setelah sosialisasi itu kita tahu sebenarnya yang mengancam bukan hanya sampah yang kita lihat. Ternyata ada mikroplastik yang bisa masuk dalam darah atau kita terhirup,” ungkap salah satu peserta.

Perempuan Nelayan Mulai Kurangi Plastik Sekali Pakai

Diskusi selama kegiatan menunjukkan sebagian perempuan nelayan sebenarnya telah memiliki kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Beberapa peserta mengakui telah membiasakan diri membawa tumbler, menggunakan tempat makan yang bisa digunakan berulang kali dan berupaya mengurangi penggunaan kemasan plastik dalam aktivitas sehari-hari. Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai penting karena pengurangan sampah dapat dimulai dari kebiasaan rumah tangga sebelum sampah masuk ke sistem pengelolaan di lingkungan. Salah satu peserta, Luluk, menyampaikan komitmen untuk mulai melakukan perubahan dari aktivitas yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Satu langkah kecil yang akan dilakukan saat ini seperti mengganti tempat minum, tumbler bawa sendiri, tempat makan bawa sendiri. Kita akan ganti plastik-plastik itu dengan bahan yang bisa digunakan kembali,” ujar Luluk.

Selain sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok terfokus atau Focus Group Discussion (FGD) yang dimediasi oleh dosen Sosiologi UNESA Wardatul Adawiah, S.Pd., M.Si. Diskusi tersebut menjadi ruang bagi perempuan nelayan untuk menyampaikan pengalaman, pandangan, serta berbagai kendala yang mereka hadapi dalam mengelola sampah di masing-masing wilayah.

Fasilitas Masih Jadi Kendala Bank Sampah

Dalam diskusi, persoalan fasilitas menjadi salah satu kendala yang banyak disampaikan peserta. Pengelolaan bank sampah membutuhkan ruang penyimpanan yang aman, tenaga pengelola, serta sistem pengangkutan yang berjalan secara konsisten. Bu Luluk mengatakan keterbatasan lahan menjadi tantangan ketika masyarakat ingin mengaktifkan kembali atau mengembangkan kegiatan bank sampah.

“Lahannya masih kurang, tenaganya juga masih kurang. Kita asal naruh tempat itu di mana-mana enggak bisa. Jadi kalau kita minta tempat itu harus yang proper, yang kita bisa menyimpan dengan aman,” katanya.

Para perempuan yang mengikuti kegiatan tersebut juga memiliki pengalaman cukup panjang dalam aktivitas lingkungan melalui Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI). Sejumlah anggota sebelumnya pernah mengikuti kegiatan pengomposan, pengelolaan bank sampah, perlombaan lingkungan, hingga berbagai inisiatif kebersihan di kawasan pesisir. Evi menyebut keberadaan kelompok perempuan menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong pengelolaan lingkungan di tingkat masyarakat. Namun, hingga saat ini konsistensi Gerakan masih perlu dipertahankan sebab beberapa inisiatif tidak lagi dilakukan.

“PPNI sudah banyak inisiatif menggerakkan bank sampah,” ujar Evi.

Kelompok perempuan nelayan mengakui mendapatkan keuntungan ekonomi dalam pengelolaan sampah. Saat Bank sampah yang dikelola masih aktif, keuntungan dari Bank Sampah dapat dibelikan sembako dan dibagikan pada para pengelola. Namun, hingga saat ini sampah rumah tangga lebih banyak dikelola sendiri.

Sampah Organik dan Anorganik Masih Berakhir di Laut

Meski berbagai inisiatif telah dilakukan, pada sesi diskusi terfokus juga mengungkap bahwa sistem pengelolaan sampah di sejumlah RT masih belum sepenuhnya terintegrasi. Keterbatasan tempat penyimpanan dan ketidakpastian pengangkutan membuat sebagian warga menghadapi persoalan ketika sampah telah menumpuk terlalu lama. Kondisi menjadi lebih sulit untuk limbah organik hasil aktivitas rumah tangga dan perikanan karena cepat menimbulkan bau tidak sedap,.

“Biasanya ibu-ibu itu kalau sampahnya sudah banyak, itu kan pasti bau. Biasanya banyak lalat, cacing. Daripada menimbulkan bau dan gejala penyakit, ya akhirnya dibuang ke laut,” kata Luluk.

Persoalan serupa ditemukan pada limbah hasil perikanan seperti kulit kerang dan kepala ikan.

“Kulit kerang, kepala ikan itu cepat bau. Kalau satu minggu itu enggak diambil, ya kita buang ke laut,” ungkap peserta lainnya.

Dalam diskusi, sejumlah perempuan mengakui bahwa praktik membuang sebagian sampah organik maupun anorganik ke laut masih terjadi. Situasi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kesadaran masyarakat, tetapi juga berhubungan dengan ketersediaan fasilitas dan konsistensi sistem pengangkutan sampah.

Di sisi lain, berdasarkan pengalaman warga dan keterangan pemerintah kelurahan, sampah yang menumpuk di pesisir Kenjeran juga tidak seluruhnya berasal dari masyarakat setempat. Arus dan angin laut membawa sampah dari wilayah lain hingga kemudian terdampar di kawasan pesisir.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah pesisir membutuhkan penanganan yang tidak hanya bertumpu pada perubahan perilaku individu, tetapi juga penguatan fasilitas, kelembagaan, sistem pengangkutan, dan kerja sama antarwilayah.

Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa Sosiologi UNESA, yaitu Farida Hakim, Rahma Remade Loladestyn, Alexander Dicko Onasis, Dian Filippo Laily Ramadhan, Maulidya Regina Poetri Hartono, Nadia Hartatik, Taufiq Aziz, dan Risma Auliana Devi. Keterlibatan mahasiswa memberikan kesempatan untuk belajar secara langsung dari pengalaman masyarakat sekaligus memahami bahwa persoalan lingkungan pesisir memiliki dimensi sosial yang kompleks.

Kegiatan Pengabdian pada masyarakat ini juga didukung oleh tim dosen diantaranya adalah Dr. Agus Machfud Fauzi, M.Si., Arief Sudrajat, S.Ant, M.Si., Pambudi Handoyo, S.Sos, M.A., Dr. Refti Handini Listyani, M.Sos., Ahmad Ridwan, M.Sosio dan Khalid Syaifullah, M.Si..

Melalui sosialisasi dan diskusi bersama perempuan nelayan, kegiatan pemberdayaan tersebut tidak hanya memperkenalkan bahaya mikroplastik, tetapi juga membuka ruang untuk memetakan persoalan pengelolaan sampah dari perspektif masyarakat.

Berbagai pengalaman yang disampaikan oleh seluruh peserta, ini menunjukkan bahwa perempuan nelayan telah memiliki modal berupa pengalaman, organisasi, serta kemauan untuk menjaga lingkungan. Dukungan fasilitas dan pengelolaan yang lebih terintegrasi diharapkan dapat memperkuat berbagai inisiatif tersebut, demi membangun kawasan pesisir yang bersih dan berkelanjutan. (*).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x