x

Hj. Ansari Bantu Guru Ngaji Berumur 100 Tahun di Palengaan Pamekasan

waktu baca 3 menit
Senin, 12 Okt 2026 19:51 51 Jurnalis

PAMEKASAN, detektifjatim.com – Suidah asal Dusun Toronan, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, masih aktif mengajar ngaji meski hidup sebatang kara.

Pada usianya yang telah mencapai 100 tahun, ia tidak pernah letih mengajar meskipun juga memiliki keterbatasan hidup dengan pendengaran yang mulai terganggu.

Suidah tetap berusaha menjalankan pengabdiannya. Baginya, mengajar ngaji merupakan bentuk amal yang ingin terus dilakukan selama masih mampu.

“Saya masih ingin mengajar ngaji selama masih mampu. Semoga ilmu yang saya ajarkan menjadi amal jariyah,” tuturnya.

Kisah perjuangan Suidah menggugah hati anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ansari. Semangat perempuan lanjut usia tersebut menjadi gambaran ketulusan dalam mengabdi dan berbagi ilmu tanpa mengenal batas usia.

Bagi Hj. Ansari, bantuan alat bantu dengar yang diterima Suidah bukan sekadar bantuan fisik, melainkan upaya untuk membantu masyarakat yang hidup dalam keterbatasan agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

“Bagi kita yang mampu, mungkin bantuan itu terlihat kecil. Tetapi bagi mereka yang membutuhkan, manfaatnya luar biasa,” ungkap Hj. Ansari.

Ia menuturkan, bantuan sosial yang disalurkan melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) memiliki arti besar bagi penerimanya. Bantuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, mulai dari kaki palsu, alat bantu dengar, hingga kursi roda.

 

Hj. Ansari bahkan menceritakan pengalaman seorang penerima manfaat yang selama beberapa tahun tidak bisa keluar rumah karena mengalami stroke. Setelah mendapatkan kursi roda, penerima manfaat tersebut akhirnya bisa kembali keluar rumah dengan bantuan anaknya.

“Alhamdulillah, dengan izin Allah, setelah diberikan kursi roda, anaknya bisa membawa ibunya keluar, berjalan-jalan, dan terkena sinar matahari. Rasa syukur dan terima kasihnya luar biasa,” tuturnya.

Menurut Hj. Ansari, kebahagiaan sederhana seperti itu menjadi pengingat bahwa bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan memiliki arti yang sangat besar.

Ia menyadari, dalam proses tersebut, dirinya tidak selalu menjadi pihak yang menyediakan bantuan secara langsung. Sebagai anggota DPR RI, ia berupaya menjadi penghubung antara masyarakat yang membutuhkan dengan kementerian terkait agar mereka bisa memperoleh bantuan sesuai kebutuhan.

“Kalau ada masyarakat yang membutuhkan, mereka bisa menyampaikan kepada saya. Kemudian saya ajukan kepada Kementerian Sosial agar mendapatkan bantuan yang diharapkan,” jelasnya.

Hj. Ansari menegaskan, membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat. Sebab, menurut dia, masih banyak warga yang membutuhkan perhatian dan dukungan agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Bahkan, ia mengaku terkadang ada penerima bantuan yang hanya sempat menggunakannya selama satu atau dua bulan sebelum akhirnya meninggal dunia. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi niatnya untuk terus membantu.

“Walaupun terkadang bantuan itu hanya dipakai sebentar, sebulan atau dua bulan, lalu mereka meninggal dunia, niat ikhlas kita untuk membantu insyaallah sudah dicatat oleh Allah SWT,” ujarnya.

Suidah menjadi salah satu penerima manfaat bantuan alat bantu dengar dalam kegiatan sosialisasi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) serta penyaluran bantuan modal usaha melalui program ATENSI yang digelar di Rumah Aspirasi, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Senin (12/10/2026).

Dalam program tersebut, belasan warga menerima bantuan sesuai kebutuhan masing-masing.

Kisah Suidah menjadi potret pengabdian yang tak lekang oleh usia. Di tengah kehidupannya yang sebatang kara dan keterbatasan pendengaran, ia tetap berusaha menebarkan ilmu melalui pengajaran Al-Qur’an.

Sementara itu, bagi Hj. Ansari, membantu masyarakat bukan semata-mata tentang besar atau kecilnya bantuan yang diberikan. Lebih dari itu, ada harapan, kebahagiaan, dan kesempatan bagi penerima manfaat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Sebab, terkadang sesuatu yang terlihat sederhana bagi sebagian orang justru menjadi kebahagiaan besar bagi mereka yang membutuhkan. (azm/ady).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x