
BANGKALAN, detektifjatim.com – Selama bertahun-tahun, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kerap dipersepsikan sebagai kampus daerah di ujung timur Pulau Jawa. Tahun 2025 menjadi titik balik.
UTM resmi menyandang status akreditasi Unggul, menandai lonjakan posisi institusi dari kampus regional menuju perguruan tinggi yang mulai diperhitungkan di tingkat nasional hingga internasional.
Predikat tersebut ditetapkan melalui SK Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor 1819/BAN-PT/AK/PT/IX/2024. Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’ menyebut capaian itu sebagai hasil kerja panjang yang dibangun secara bertahap.
“Kami tidak membangun UTM dengan cara instan. Ini proses panjang, penuh koreksi, dan konsistensi menjaga mutu. Akreditasi Unggul adalah pengakuan atas kerja kolektif sivitas akademika,” ujar Prof. Safi’, Kamis (1/1/2025).
Menurutnya, status Unggul tidak boleh berhenti sebagai simbol administratif. Tantangan justru muncul setelah pengakuan tersebut diraih.
“Kalau hanya berhenti di status, itu berbahaya. Unggul harus diterjemahkan dalam kualitas lulusan, riset yang dirasakan masyarakat, dan tata kelola yang transparan,” tegasnya.
Sepanjang 2025, perubahan wajah UTM terlihat jelas di sektor akademik. Dari 42 program studi yang dikelola, 14 telah berstatus Unggul, tujuh lainnya mengantongi akreditasi internasional FIBAA, sementara sisanya berpredikat Baik Sekali.
Transformasi pembelajaran diperkuat melalui kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Prof. Safi’ menegaskan, perubahan kurikulum menjadi kunci agar lulusan UTM tidak tertinggal dari kebutuhan zaman.
“Kami ingin lulusan UTM tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga relevan dengan dunia kerja dan mampu beradaptasi di level nasional maupun global,” katanya.
Di balik penguatan akademik, UTM membenahi fondasi tata kelola. Sertifikasi ISO 9001:2015 dipertahankan hingga 2028, sementara status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) memberi ruang fleksibilitas dalam pengelolaan pendidikan, riset, dan inovasi.
“BLU memberi kami ruang bergerak lebih cepat. Tapi fleksibilitas itu harus dibarengi akuntabilitas. Ini yang terus kami jaga,” ujar Prof. Safi’.
Perubahan signifikan juga terjadi di sektor riset. Sepanjang 2025, pendanaan penelitian melalui skema BIMA dan pendanaan mandiri meningkat. UTM melibatkan dua Tim Kepakaran Hilirisasi Dikti sebagai bagian dari agenda nasional.
“Kami tidak ingin riset hanya berakhir di jurnal. Riset harus turun ke masyarakat, menjawab problem nyata, dan memberi nilai tambah ekonomi,” kata dia.
Penguatan ekosistem inovasi ditandai dengan peresmian Gedung Inovasi Teaching Industry pada awal 2025. Menurut Prof. Safi’, fasilitas tersebut menjadi simbol perubahan orientasi kampus.
“Gedung ini kami siapkan sebagai ruang temu antara kampus, industri, dan masyarakat. Di sinilah konsep Kampus Berdampak kami terjemahkan secara konkret,” ujarnya.
Produktivitas publikasi ilmiah dosen UTM melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini mengantarkan UTM masuk klaster Utama penelitian dan pengabdian masyarakat nasional.
Di sisi sumber daya manusia, jumlah guru besar meningkat drastis dari tujuh orang pada 2022 menjadi 31 orang hingga akhir 2025.
“Guru besar adalah pilar mutu akademik. Peningkatan ini menunjukkan bahwa ekosistem akademik UTM sedang tumbuh dengan sehat,” tutur Prof. Safi’.
Pada level internasional, UTM mulai memperluas jejaknya. Trunojoyo Law Review berhasil terindeks Scopus, kerja sama global diperluas, dan mahasiswa asing mulai berdatangan ke Bangkalan.
“Internasionalisasi bukan soal gengsi, tapi soal membuka ruang belajar lintas budaya dan meningkatkan standar akademik,” katanya.
Prestasi mahasiswa juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, mahasiswa UTM mencatatkan 257 prestasi di berbagai level, meningkat dari 197 prestasi pada tahun sebelumnya. Pengelolaan kemahasiswaan mendapat pengakuan melalui SIMKATMAWA dengan klasterisasi Unggul.
Di sisi sosial, UTM memperluas akses pendidikan. Hampir 2.000 mahasiswa menerima bantuan KIP-K, disertai penguatan layanan ramah disabilitas.
“Kampus tidak boleh eksklusif. Tugas kami memastikan semua anak bangsa, termasuk dari kelompok rentan, punya kesempatan yang sama,” tegas Prof. Safi’.
Menutup tahun 2025, UTM meresmikan sejumlah fasilitas strategis, mulai dari Gedung Inovasi Teaching Industry, Zona Ekonomi Sirkular, GOR SAS Center, hingga Museum Budaya Madura.
“Status Unggul sudah kami raih. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan membuktikan bahwa UTM benar-benar memberi dampak bagi Madura dan Indonesia,” pungkas Prof. Safi’.(San)
No Comments