
JAKARTA, detektifjatim.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031 resmi dilantik di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Pelantikan ini dipimpin lansung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Sebelum prosesi pelantikan, Ketua PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin membacakan surat keputusan tentang pengesahan komposisi dan personalia pengurus PBNU.
Surat tersebut bernomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 tentang pengesahan komposisi dan personalia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026-2031.
“Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tentang Pengesahan Komposisi dan Personalia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masa Khidmah 2026–2031,” kata Gus Kikin saat membacakan surat keputusan tersebut.

Gus Kikin mengatakan, nama-nama yang tercantum dalam lampiran surat keputusan itu disahkan sebagai pengurus PBNU periode 2026–2031. Para pengurus diamanatkan menjalankan tugas dengan berpedoman pada Mukadimah Qanun Asasi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama, serta peraturan yang ditetapkan melalui permusyawaratan organisasi.
Para pengurus juga berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dalam Muktamar ke-36 Nahdlatul Ulama mendatang.
“Ketiga, surat keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Apabila dalam penetapannya terdapat perubahan dan/atau kekeliruan, surat keputusan ini akan ditinjau kembali sebagaimana mestinya,” tambahnya.
Setelah pembacaan surat keputusan, KH Miftachul Akhyar memimpin prosesi pelantikan. Sejumlah ketua, sekretaris jenderal, dan pengurus lainnya naik ke panggung untuk mengikuti prosesi, sisanya mengikuti baiat dari bawah panggung.
“Yang harus kita cermati, baiat adalah merupakan inisiasi spiritual, janji setia. Baiat merupakan pembaruan penguatan terhadap janji setia tersebut, rechanncing atas apa yang telah terjadi, kesungguhan dalam pengabdian,” ungkapnya.
Setelah itu, KH Miftachul Akhyar membacakan baiat yang diikuti para pengurus. Mereka selanjutnya mengucapkan ikrar sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031.
“Kami, selaku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026 sampai dengan 2031, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, dengan ini berikrar sebagai berikut,” demikian bunyi ikrar yang dibacakan.
Dalam ikrar pertama, para pengurus menyatakan kesiapan mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945.
“Pertama, siap mengamalkan dan mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan patuh pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Nahdlatul Ulama serta peraturan jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ucap KH Miftachul Akhyar.
Ikrar kedua berisi kesanggupan menjalankan tugas kepengurusan untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, umat Islam, dan masyarakat Indonesia.
“Kedua, siap melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pengurus besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026 sampai dengan 2031 dengan sebaik-baiknya demi untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, kepentingan umat Islam, dan kepentingan masyarakat Indonesia pada umumnya,” sambungnya.
Pada ikrar ketiga, para pengurus menyatakan kesediaan menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, serta peningkatan harkat dan martabat manusia.
“Ketiga, siap menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam rangka ikhtiar menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, dan ketinggian harkat dan martabat manusia yang diridai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,” tukasnya. (*).




Tinggalkan Balasan