x

Magister Sosiologi UNESA dan MGMP Sidoarjo Bahas Optimalisasi AI untuk Pembelajaran

waktu baca 5 menit
Senin, 28 Sep 2026 19:39 62 Jurnalis

SURABAYA, detektifjatim.com – Program Studi Magister Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Sidoarjo menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Optimalisasi AI untuk Pembelajaran Sosiologi dan Kinerja Profesional Guru” di Gedung I8 Auditorium FISIPOL UNESA, Senin (28/9/2026).

Kegiatan ini mendorong guru memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk pembelajaran dan pekerjaan profesional secara kritis.

Guru Sosiologi Antusias Belajar AI

Ketua MGMP Sosiologi Sidoarjo Lulis Setyawati, S.Ag. menyebut para peserta antusias mengikuti pelatihan yang mempertemukan guru dengan lingkungan akademik Magister Sosiologi FISIPOL UNESA.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru mengenai AI, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan pertukaran pengalaman antara guru dan akademisi.

“Alhamdulillah, teman-teman dari MGMP Sosiologi Sidoarjo sangat antusias sekali. Kami berterima kasih karena kami bisa dapat ilmu dan sekaligus bisa silaturahmi di UNESA FISIPOL Sosiologi ini,” ujar Lulis Setyawati, Senin (28/9/2026).

Lulis berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu agenda, melainkan berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan antara MGMP Sosiologi Sidoarjo dan FISIPOL UNESA.

Ia melihat pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk terus bertukar ilmu sekaligus memperkuat hubungan antara guru dan perguruan tinggi.

“Semoga kedepannya ini terus berlanjut, silaturahmi terus berlanjut. Jadi kami bisa bertolabul ilmi dan kami juga bisa silaturahmi. Artinya semoga program atau kerjasama ini terus berlanjut,” katanya.

AI Bisa Pangkas Waktu Kerja Guru

Bagi Lulis, pemanfaatan AI memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan guru, mulai dari mendukung kegiatan pembelajaran hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan administrasi sekolah.

Teknologi tersebut dinilai dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih panjang menjadi lebih efisien.

“Sangat bagus dan sangat penting untuk kegiatan pembelajaran, untuk kita menyelesaikan administrasi sekolah dan lain-lain, apalagi untuk kegiatan pembelajaran,” tutur Lulis.

Ia menambahkan, AI juga dapat meringankan tugas guru karena sejumlah pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu lebih singkat.

“Di samping untuk kegiatan pembelajaran, itu juga untuk ya meringankan tugas guru, setidaknya seperti itu. Mungkin yang awalnya kita butuh waktu berlama-lama, dengan adanya AI ini, kita hanya memerlukan waktu hanya menghitung menit saja,” ujarnya.

Meski menawarkan efisiensi, Lulis menekankan guru tetap perlu memiliki kemampuan berpikir kritis saat menggunakan hasil dari AI.

Informasi yang diberikan teknologi tersebut tidak bisa langsung digunakan tanpa proses penyaringan dan penyesuaian dengan kebutuhan pembelajaran.

“Tetapi kita tidak langsung mentah mendapatkan itu, tapi harus kita saring, itu hanya sebagai referensi saja. Bagaimanapun sebagai seorang guru, itu harus mempunyai pola pikir yang bagus, tapi referensinya adalah melalui AI tadi,” jelasnya.

Magister Sosiologi UNESA Dorong Pemanfaatan AI Secara Kritis

Ketua PKM Magister Sosiologi FISIPOL UNESA Dr. Dewien Nabielah Agustin, S.Sos., M.Sosio. mengatakan kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak nyata bagi guru, terutama dalam mengoptimalkan pemanfaatan AI untuk kebutuhan pendidikan.

Menurutnya, perkembangan teknologi pembelajaran akan terus berjalan sehingga guru perlu mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan.

“Semoga apa yang kita lakukan dalam PKM Magister ini membawa, berdampak pada guru-guru, utamanya di dalam AI, optimalisasi AI ini. Karena tentunya ini berkelanjutan ya, berkelanjutan akan teknologi pembelajaran dan pembelajaran ini tidak berhenti,” ujar Dewien.

Ia menilai pemanfaatan AI dalam pembelajaran sosiologi juga perlu diikuti kemampuan berpikir kritis.

Sosiologi sebagai bidang keilmuan terus berkembang sehingga guru dan peserta didik perlu tetap mengolah pengetahuan, bukan sekadar menerima informasi yang dihasilkan teknologi.

“Dan mungkin dengan adanya ini juga, para guru bisa mengembangkan intelijen mereka secara kritis karena sosiologi sendiri secara keilmuan tidak hanya berhenti begitu saja, tetapi akan berlanjut sampai seterusnya,” lanjutnya.

Kegiatan PkM tersebut juga melibatkan Koordinator S2 Sosiologi Moh. Mudzakkir, S.Sos., M.A., Ph.D. bersama sejumlah dosen Sosiologi UNESA, yakni Dr. Sugeng Harianto, M.Si., Dr. Agus Machfud Fauzi, M.Si., Dr. Dewien Nabielah Agustin, S.Sos., M.Sosio., Dr. M. Jacky, S.Sos., M.Si., Dr. Nazar Husain Hadi Pranata Wibawa, M.Phil., dan Dr. Refti Handini Listyani, S.Sos., M.Si.

Kerja Sama Pembelajaran Sosiologi Bakal Berlanjut

Dewien menyebut keberlanjutan program dapat diarahkan pada kebutuhan pembelajaran sosiologi di sekolah.

Masukan dari guru menjadi penting untuk menentukan materi, inovasi, maupun pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa SMA.

“Keberlanjutannya lebih pada pembelajaran ya. Karena tentunya ada permintaan dari guru-guru mengenai pembelajaran sosiologi kedepannya itu yang dibutuhkan untuk sosiologi apa untuk siswa SMA-nya,” kata Dewien.

Lulis juga berharap FISIPOL UNESA dapat terus memberikan pembelajaran, edukasi, dan inovasi yang bisa diterapkan guru dalam pembelajaran sosiologi. Ia bahkan berharap kerja sama tersebut dapat diperluas melalui kunjungan akademisi FISIPOL UNESA ke Sidoarjo.

“Ya mungkin dengan kita memberikan pembelajaran terkait dengan kayak gini ya, mungkin bisa mensosialisasikan apa yang kami belum punya atau kami belum bisa, dari pihak FISIPOL bisa memberikan materi, edukasi, ataupun inovasi terkait dengan sosiologi itu sendiri,” ungkap Lulis.

Kolaborasi tersebut juga menyentuh persoalan pendidikan karakter dan pengetahuan sosial yang menjadi perhatian para guru.

Dewien menyebut keterbatasan pendidikan karakter di sekolah serta munculnya krisis pengetahuan mengenai persoalan sosial membuat guru masih membutuhkan ruang diskusi untuk mencari pendekatan pembelajaran yang tepat.

“Karena ya kita tahu krisis akan pengetahuan masalah sosial saat ini, apalagi dengan karakter pendidikan karakter sekolah yang sangat terbatas, itu yang membuat keresahan guru-guru masih bertanya terkait itu, solusinya seperti apa dan seterusnya,” pungkas Dewien. (*).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x