x

Haflatul Imtihan: Meriah Boleh, Latah Jangan

3 minutes reading
Wednesday, 21 Jan 2026 08:37 129 detektif_jatim

Oleh : Mohammad Sukri

Staff Pengajar SMK Al-Miftah Panyeppen Pamekasan

Sebentar lagi madrasah dan pesantren memasuki hajat akhir tahun yang dikenal sebagai Haflatul Imtihan, momen yang selalu dinanti oleh santri, guru, dan para wali. Acara ini sejatinya bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi ruang untuk menampilkan hasil belajar para santri baik ilmu, akhlak, maupun kreativitas yang mereka bangun sepanjang tahun. Di sinilah jati diri sebuah lembaga pendidikan Islam benar-benar diuji dan diperlihatkan kepada masyarakat.

Namun akhir-akhir ini muncul fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Beberapa madrasah dan pesantren terlihat mulai terbawa arus budaya populer demi tampil modern. Demi mengejar kesan “meriah” dan “kekinian,” nilai-nilai pendidikan yang seharusnya menjadi inti acara justru mulai tersisih.

Hiburan yang Menutupi Nilai

Tidak jarang kita menyaksikan panggung Haflatul Imtihan berubah layaknya konser hiburan. Tarian yang hanya mengikuti tren, musik yang tak bernapas Islami, hingga penampilan yang kurang memperhatikan batasan syar’i mulai bermunculan demi sekadar memancing tepuk tangan.

Pertanyaannya: apakah ini benar wajah pendidikan Islam yang ingin kita tampilkan kepada para wali santri? Apakah memang demikian cara kita menggambarkan hasil proses panjang pendidikan pesantren?

Padahal, masyarakat datang bukan untuk melihat panggung glamor. Mereka hadir untuk menyaksikan buah pendidikan akhlak anak-anak mereka. Mereka ingin menyaksikan kesenian dan kreativitas yang tetap berada dalam koridor nilai seni yang anggun, pidato yang berbobot, dan penampilan yang menggugah hati.

Kreativitas Tetap Bisa Tanpa Melanggar Adab

Anggapan bahwa seni Islami itu membosankan jelas keliru. Yang kurang sering kali bukan materinya, tetapi pengemasannya. Kesenian Islami sangat kaya: hadrah yang menggugah semangat, qasidah yang menenangkan jiwa, drama sarat pesan moral, atau visualisasi kisah-kisah kitab kuning yang bisa sangat menarik jika dikemas dengan kreatif.

Dengan tata panggung yang rapi dan konsep pertunjukan yang jelas, kesenian Islami justru dapat tampil lebih elegan dibandingkan hiburan yang hanya meniru tren media sosial.

Kembali Pada Jati Diri: Pesantren Penjaga Nilai

Mengikuti tren tidak otomatis membuat lembaga tampak maju. Justru ketika pesantren meniru budaya luar tanpa filter, identitas khasnya perlahan terkikis. Pesantren memiliki karakter yang seharusnya dijaga: adab, ilmu, dan keteguhan mempertahankan nilai. Di tengah derasnya arus budaya global, pesantren harus menjadi mercusuar yang memberi arah, bukan hanya penonton yang ikut-ikutan.

Haflatul Imtihan adalah cermin wajah lembaga. Apa yang dipertontonkan di panggung itulah yang akan dinilai masyarakat. Pertanyaannya simpel: apakah kita ingin dikenal sebagai lembaga yang tegas menjaga nilai, atau lembaga yang sekadar mengejar popularitas sesaat?

Sekarang waktunya menata ulang arah. Menghindari sikap latah bukan berarti menolak kemajuan. Justru dengan kembali pada nilai-nilai dasar, Haflatul Imtihan bisa menjadi acara yang jauh lebih bermakna dan bermartabat. Ini adalah panggung syiar ilmu dan adab dan sudah seharusnya kita jaga agar tetap menjadi cahaya bagi umat.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x