x

Komitmen Menjaga Keutuhan Bangsa, Ulama’ Dirikan Rumah Santri dan Alumni Pesantren se-Nusantara

5 minutes reading
Sunday, 12 Apr 2026 19:20 18 detektif_jatim

Oleh: ABD. AZIZ

Warga Nahdlatul Ulama’ (NU), Advokat, Legal Consultant, Mediator Non-Hakim, Columnist, dan CEO Firma Hukum PROGRRSIF LAW. Kini, Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK)

Pada suatu malam menjelang Shubuh, telepon seluler berdering. “Siapa, gerangan?” tanya dalam hati. Ternyata, panggilan dari Lora Imam Buchori Cholil (Ra Imam). Ulama besar Madura, yang tak lain cicit dari Syaikhona Cholil Bangkalan. Kiai yang dikenal apa adanya ini, berbincang tentang cita-cita yang membutuhkan urun gagasan para Ulama’, Pengasuh Pesantren, dan Ketua Alumni Pesantren di Indonsia. Dengan demikian, para santri dan alumni Pesantren berada dalam bingkai kebersamaan yang mengusung visi keumatan.

Substansinya, sosok kalem itu menyampaikan gagasan besar dari Kiai Muhammad Ali Cholil (Ra Ali) soal pendirian sebuah lembaga yang mewadahi para santri dan alumni Pesantren se-Indonesia. Tentu, sebagai alumni Pesantren, penulis mendukung ide tersebut. Pertimbangan simple, bahwa santri dan alumni Pesantren harus bersatu. “Persatuan yang mulia dalam menyangga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, merawat hubungan kemanusiaan, dan garda terdepan dalam menjaga moralitas,” harap penulis pada Ra Imam.

Selang beberapa pekan, Ra Imam mengajak bertukar pikiran, bagaimana mewujudkan pemikiran tentang berdirinya rumah bersama santri dan alumni Pesantren, yang diikhtiarkan sebagai upaya nyata dalam menjembatani segala problema yang terjadi di negeri ini. Gesekan antar suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) kerap terjadi menjadi perhatian utama. Jika hal tersebut dapat dicegah sedini mungkin, bukankah bisa merawat hubungan kemanusiaan? Karenanya, dibutuhkan suatu lembaga yang konsentrasi pada maksimalisasi peran santri dan alumni Pesantren.

Penting menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Muaranya satu, hidup berdampingan, membangun kehangatan berwarganegara, mengikis fitrah perbedaan dan semangat memperjumpakan persamaan yang menjadi cita-cita luhur para pendiri bangsa. Itulah impian yang menjadi visi kebangsaan dari lahirnya Ikatan Himpunan Santri dan Alumni se-Nusantara (IHSAN). Sebuah lembaga yang berfokus pada prinsip menjaga keutuhan bangsa dalam bingkai etika dan moralitas.

Hari berganti hari, pekan berganti pekan. Untuk pertama kalinya, penulis terlibat diskusi dengan sang penggagas IHSAN, Romo Kiai Muhammad Ali Cholil (Ra Ali), yang tak lain Pengasuh Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan, Pesantren Syaichona Cholil Samarinda, dan Pesantren Syaichona Cholil Bontang, Kalimantan Timur. Selain Pengasuh Pesantren, Ra Ali tercatat aktif sebagai

Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ (PWNU) Kalimantan Timur.

Datang dengan didampingi Ra Imam, pertemuan berlangsung hangat di kawasan Jl. Jakarta, Kota Malang, Jawa Timur pekan lalu. Agendanya tunggal, pembumian gagasan segar penuh kebaruan bagi santri dan alumni Pesantren yang tersebar hingga pelosok tanah air. Diskusi tentang proses mendokumentasikan keyakinan, nilai, dan tujuan secara publik untuk mendorong perubahan yang diinginkan bersama. Itu hal fundamental yang menjadi topik diskusi kala itu.

Intinya, manifesto gerakan santri dan alumni Pesantren adalah komitmen perjuangan yang semata hendak menegaskan kontribusi Pesantren dalam pembangunan bangsa, menjaga marwah Ulama’, dan mengamalkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin —kasih sayang bagi semesta alam— di masyarakat. Sejarah tak terbantahkan, bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga pilar NKRI, penggerak sosial, dan pengawal moral di era globalisasi. Itulah misi utama yang diusung IHSAN ke depan.

Pertemuan yang berlangsung selama seratus dua puluh menit itu, juga menjelentrehkan program utamanya, yakni melakukan tindakan preventif, mengambil langkah proaktif atau upaya pencegahan yang dilakukan sebelum suatu masalah terjadi. Tujuannya, meminimalisir resiko yang bertujuan menghilangkan kesempatan timbulnya gesekan dan menjaga situasi tetap kondusif. “Jika para Ketua Alumni Pesantren bersatu, maka hal serupa yang terjadi, seperti di Sampit (2001), Lampung Selatan (2012), dan Papua Tengah (2024), bisa dilakukan pencegahan yang terencana, terukur, dan terprediksi (3T),” tandas penulis pada Ra Imam dan Ra Ali.

Selanjutnya, memelopori Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dan Doa Kebangsaan di 98 Kota dan 416 Kabupaten serta 38 Provinsi di Indonesia. Berikutnya, membahas tentang sambutan hangat akan berdirinya IHSAN dari para Kiai dan Ulama’ yang tersebar di seluruh negeri ini. Kesamaan visi dan misi penggagas dengan para tokoh yang memimpin Ikatan Alumni Pesantren, kian menemukan relevansinya. “Tak sedikit Ulama dan Pengasuh Pesantren yang siap mewujudkan visi dan misi dari IHSAN,” ungkap Ra Ali yang dibenarkan Ra Imam.

Hari menjelang sore. Langit Kota Malang tampak mendung. Pertanda hujan segera turun. Sedang kopi hitam yang tersaji tinggal satu tegukan. Jamu Bakar _Tani Madjoe_ dengan 12 rempah di meja pun, hampir tak tersisa. Ra Imam dan Ra Ali memberi kode. Bahwa, perbincangan segera disudahi. “Baik, Ra Imam, setelah ini saya ada meeting kembali di tempat ini. Segera saya bantu apa yang diembankan.”. Demikian kalimat penutup penulis pada kedua tokoh tersebut.

“Dalam waktu dekat, kita meeting kembali. Finishing anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). Proses Notaris dan pendaftaran kelembagaan di Kementerian Hukum. Ini domain (tugas), Mas Aziz. Pasca itu, merapatkan barisan bersama seluruh Ulama dan Tokoh Pesantren yang sudah terkonfirmasi”. Itulah kalimat penutup Ra Imam, yang kini menjadi Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU).

Ra Ali menimpali pelan. “Setelah tahapan pendirian kelembagaan usai, kita susun kepanitiaan nasional, proses pengiriman undangan pada pihak-pihak terkait, antara lain para Ketua Alumni Pesantren, Pengasuh Pesantren se-Indonesia, dan tokoh masyarakat. Untuk tempat deklarasi IHSAN, kita tempatkan di Kalimantan yang akan dihadiri para deklarator, yang didominasi para Ulama’ dan Pengasuh Pesantren”. Setelah itu, kedua Ulama’ kharismatik ini pamit undur diri, dan membalikkan badan.(*)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x