
Ketua Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika saat meresmikan SPPG Arok (Moh Iksan/DJ) BANGKALAN, detektifjatim.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Arok di bawah naungan Yayasan Laili Izzatul Faiqoh resmi diluncurkan di Desa Arok, Kabupaten Bangkalan.
Dapur MBG ini menyasar sementara 1.543 penerima manfaat dari 16 sekolah serta kelompok B3 di tiga desa, yakni Desa Arok, Pangolangan, dan Perreng.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Bangkalan, Bambang Budi Mustika, menegaskan bahwa program pemenuhan gizi harus memberikan manfaat nyata bagi penerima sekaligus berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar.
“Gizi yang disalurkan harus benar-benar bermanfaat bagi penerima. Selain itu, SPPG harus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan memaksimalkan potensi lokal serta mempekerjakan warga setempat,” tegasnya.
Bambang juga mengingatkan pentingnya pemenuhan standar kesehatan dan lingkungan, termasuk pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Relawan harus dilatih dan dipastikan dalam kondisi sehat, dilakukan uji air dan makanan, serta dipastikan kelayakan lingkungannya,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Arok, Irfan Fernanda Putra, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan tahapan untuk memenuhi seluruh persyaratan SLHS.
“Untuk SLHS, relawan akan menjalani penyamaan makanan terlebih dahulu. Setelah semua mendapatkan sertifikat, baru kami lanjutkan ke pengurusan SLHS,” jelasnya.
Irfan juga menjelaskan bahwa jumlah penerima manfaat saat ini masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah.
“Total penerima manfaat sementara sebanyak 1.543 dari 16 sekolah serta B3 di tiga desa. Ke depan kemungkinan akan bertambah karena kami masih menyisir sekolah-sekolah yang belum tercover,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Laili Izzatul Faiqoh, H. Subaidi, menegaskan bahwa pendirian SPPG Arok sejak awal bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat.
“Tujuan kami agar di Arok ini ada SPPG dan masyarakat bisa terbantu perekonomiannya. Bahan pangan seperti kacang panjang hasil pertanian lokal serta beras berkualitas akan kami gunakan sesuai SOP MBG,” katanya.
Ia juga memastikan seluruh tenaga kerja yang terlibat merupakan warga lokal.
“Sekitar 30 relawan atau karyawan semuanya warga Arok, tidak ada tenaga dari luar desa,” pungkasnya. (san/ady)
No Comments